Tandhak Bedhes


Tandhak Bedhes adalah istilah warga Surabaya dan sekitarnya untuk Topeng Monyet, sebuah alternatif hiburan rakyat dengan monyet sebagai bintang utamanya. Sebutan lain untuk Tandhak Bedhes adalah Ledhek Kethek dan Kethek Ogleng. Jenis monyet yang digunakan dalam atraksi ini adalah monyet ekor panjang (Macaca fascicularis).

Selain di Indonesia, tandhak bedhes juga dapat dijumpai di beberapa negara Asia lainnya, seperti India, Pakistan, Thailand, Vietnam, China, Jepang, dan Korea.

Di era 70 – 80 an, alat musik pengiring yang lazim digunakan dalam tandhak bedhes adalah kendang/ gendang kecil yang dimainkan oleh satu orang, sekaligus mengendalikan monyet untuk melakukan atraksi, seperti membawa pikulan, payung, atau gerobak, yang semuanya dibuat dalam ukuran mini, sesuai dengan ukuran monyet.

Biasanya, selain monyet, juga ada ular jenis phiton yang dijadikan obyek tontonan.

Belakangan, sepeda motor kayu mini turut menjadi perlengkapan atraksi sang bintang. Dan ini tampaknya yang digemari oleh penonton, baik anak-anak, maupun dewasa. Itulah sebabnya, perlu dua orang untuk menjalankan bisnis tradisional ini. Satu orang memainkan musik, satu orang lagi mengendalikan monyet yang diikat dengan tali panjang, agar sang bintang leluasa beraksi bak Valentino Rossi.


Yang agak miris dalam menyaksikan pertunjukan ini, adalah saat sang pawang berlaku kasar pada monyetnya jika sang monyet kurang tanggap dengan instruksinya.

Atraksi berlangsung sekitar 15 menit dan diakhir pertunjukan, si monyet akan berkeliling ke penonton sambil membawa kaleng untuk mendapatkan uang sebagai imbalan atas atraksinya.

Berikut ini beberapa video tandhak bedhes yang saya rekam saat car free day di Taman Bungkul, Surabaya, beberapa waktu lalu :







(mp2)


Related Posts
Previous
« Prev Post

Comments