Group Musik Indonesia Papan Atas Era 70-80'an

Sabtu, 04 Juni 2011 0 komentar

Koes Bersaudara

Kiri ke kanan : Nomo, Yok, Yon dan Tony Koeswoyo

Koes Bersaudara dibentuk di Jakarta tahun 1960, beranggotakan 5 bersaudara: Koesdjono (Jon), Koestono (Tonny), Koesnomo (Nomo), Koesyono (Yon) dan Koesroyo (Yok). Jon keluar dari Koes Bersaudara setelah album pertama diluncurkan sekitar tahun 1961 atau 1962. Rekaman yang dibuat dalam kondisi "seadanya" itu karena studionya berada tidak jauh dari jalur kereta api, sehingga saat kereta api lewat, mereka terpaksa berhenti merekam sampai suara kereta api hilang dari pendengaran.

Koes Bersaudara berubah nama menjadi Koes Plus tahun 1969 menyusul mundurnya Nomo dan membentuk band sendiri bernama No Koes tahun 1973.


Koes Plus

Kiri ke kanan : Yon Koeswoyo, Murry, Tonny Koeswoyo dan Yok Koeswoyo
(foto : selamettaufikhidayat.blogspot.com)
No Koes


Nama Nomo Koeswoyo barangkali bakal dicatat sebagai legendaris dalam blantika musik; sebagai otak menager dari mulai yang penuh sensasi humor sampai yang keras2 gawat!!

Coba anda catat sensasi2 yang nyelekit dalam persaingan blantika musik ini.
Contoh kesatu : Dialah yang memimpin acara jumpa pers, tatkala No Koes pertama kali didirikan diawal tahun 73. Dia memiliki sensasi2 yang galak, tatkala menyelamati nama band-nya itu dengan nama NoKoes. Asosiasi public musik bisa saja kearah kata” Anti Koes Plus”. Sensasi lainnya misalnya bikin band dengan nama PATAS Tanpa Murry.
Kedua : Dalam jumpa pers dulu, Nomo sengaja menyuruh crew NoKoes lainya (yang bekas Usman Bersaudara) ngumpet dari pers. Pers hanya mampu menduga-duga siapa sebenarnya yang lungguh dibelakang formasi No Koes kala itu. Ini merupakan sensasi besar, sebab setelah itu pers lantas sibuk mencari data tentang No Koes. Dengan begitu berita NoKoes selalu hadir di mas media.
Ketiga : Sampai beberapa album banyaknya, No Koes muncul dalam cover plat + kaset tanpa foto para pemain. Dengan begitu, pers-pun tetap disibukan dengan ulah Nomo ini.
Keempat : Tampilnya semacam perang urat syaraf dengan sesama saudara, yakni versus Koes Plus, yang sampai saat ini ber-alas-kan permadani kemewahan Remaco: dilungguhkan sebagai ”Dewa dalam musik”
Itu barangkali sebagian kecil yang bisa diingat. Begitu pula tatkala Yukawi menampilkan nama Kembar Group (Bar Bros) dan No Bo. Kalau Bar Bros konon melungguhkan kembali kharisma pop duet Yon-Yok, maka NoBo punya dua biji sensasi atau lebih, yang sama persis dengan sensasi ala NoKoes. Dari namanya jelas se-olah2 menimang2 kemampuan Bimbo. Sudah tahu musiknya mirip2 Bimbo, kenapa dikasih nama NoBo? Bikin merah muka anak Bimbo aja! Kedua dalam album pertama group itu, Yukawi tanpa menyebutkan:ciptaan siapa lagu2 itu. Kecuali kata2: ciptaan NoBo begitu saja. Dengan sendirinya, pembeli kaset/plat Cuma mampu bertanya2. Saking besarnya tanda tanya, dan saking hebatnya persamaan NoBo dengan Bimbo, maka publik Bandung pun gempar dengan peredaran kaset ini. Misalnya beberapa komentar penyiar radio di Bandung, macam yang dikutip Aktuil dari mulut Wawan: ”Beberapa radio Bandung sebelum memutar lagu NoBo lebih dulu berkomentar: Ini merupakan group Bimbo yang merekam lagu2nya di Yukawi. Lantas ada komentar lain yang mengatakan, konon Nomo Koeswoyo dan NoKoes-nya join dengan Bimbo dan membuat nama group NoBo. 

Dan ada lagi yang konyol. Konon No Koes membuat lagu2 ala Bimbo dan direkam di Yukawi”. Bukan main memang intrik sensasi ini. Dan jangan dilupa pula bahwa peredaran kaset/plat NoBo Vol.1 juga tampil tanpa gambar tampang pemain. Dan hingga saat berita ini ditulis, ternyata NoBo masih belum mau pula untuk mengadakan jumpa pers macam dulu2. alasannya ” Biar orang2 mencari dia dulu!” kata Nomo. 

Ini memang sensasi sampai2 sang bapak ’Koeswoyo Senior' geleng kepala dengan sensasi Nomo. Komentarnya cuma sekalimat ini: ”Mas Nomo memang ulet orangnya!”. Karena uletnya itulah, tatkala di bulan Januari; Tonny Koeswoyo berulang-tahun, maka benggolan Koes Plus itu menyempatkan diri ke Yukawi. Tanpa diduga Tonny berbisik pada Nomo: ”Kowe luwih sukses timbang aku" ( kamu lebih sukses ketimbang saya). Sudah tentu kalimat ini bukan dibisikkan di depan kuping wartawan, tapi hasil wartawan menjiplak omongan Nomo Koeswoyo. Adakah omongan satu ini juga sensasi?? Saya kira tidak sebab dalam blantika ini, konon semua cara yang ugal2-an sekalipun dibiarkan saja. Contoh iklan2 yang banyak ngebohong!. (Sumber: Majalah AKTUIL)


Usman Bersaudara (Usbros)


Group band legendaris jebolan No Koes tahun 70-an , Usman Bersaudara setelah vakum hampir lamanya 26 tahun, kini Usman punya rencana akan kembali lagi ke blantika musik Indonesia ketika dilihat ternyata kancah musik Indonesia masih ramai, apalagi banyak band atau penyanyi solo baru yang ikut meramaikan kancah musik di negeri ini “jelas Usman ditemui di Museum Layang-Layang Pondok Labu Jakarta Selatan Minggu 2/11.

Usman Bersaudara yang vakum di dunia musik, saat itu album ke 32 tahun 1983, tetapi selama kevakumannya Usman tetap eksis di dunia industri musik Indonesia untuk lagu anak-anak yang kini menjadi produser sekaligus mengajar vocal dan penulis lirik. Sudah banyak penyanyi cilik yang diorbitkannya.

Bimbo


Bimbo adalah sebuah grup musik Indonesia yang didirikan sekitar tahun 1967. Personil Bimbo terdiri atas Sam, Acil, Jaka dan Iin Parlina.

Berawal dengan Trio Bimbo yang banyak dipengaruhi Musik Latin. Lalu merilis album perdana di label Fontana Singapura dengan Melati Dari Jayagiri karya Iwan Abdurachman. Di era tahun 70-an, Bimbo identik dengan lagu-lagu balada yang cenderung berpola minor dengan lirik-lirik puitis.

Di pertengahan 70-an, Bimbo yang lalu diperkuat oleh Iin Parlina dari Yanti Bersaudara mulai menjamah lagu-lagu dengan tema-tema keseharian seperti Abang Becak hingga lagu-lagu yang titelnya menggunakan serial anggota tubuh seperti Kumis, Tangan hingga Mata yang cenderung bernada humor. Memasuki era 80-an Bimbo mulai bermain dengan lagu-lagu dengan tema-tema kritik sosial seperti Antara Kabul dan Beirut atau Surat Untuk Reagan dan Brezhnev.

Namun, di sisi lain ciri khas sebagai kelompok religius pun melekat erat. Berawal dengan lagu Tuhan karya Sam Bimbo dan berlanjut dengan album qasidah di sekitar tahun 1974.
Dalam perjalanan musiknya Bimbo juga banyak menjalin kolaborasi dengan sederet sastrawan seperti Wing Kardjo dan Taufiq Ismail.

Pada tahun 2007, Bimbo merilis album baru yang antara lain menampilkan karya terbaru Taufiq Ismail yang berpola kritik sosial yaitu Jual Beli dan Hitam Putih.


Panbers (Panjaitan Bersaudara)






Panbers adalah satu nama kelompok pemusik yang merupakan kependekan dari Pandjaitan Bersaudara. Kelompok yang didirikan pada tahun 1969 ini terdiri dari empat orang kakak beradik kandung putra-putra dari Drs. JMM Pandjaitan, S.H, (Alm) dengan BSO Sitompul. Mereka adalah Hans Pandjaitan, Benny Pandjaitan, Doan Pandjaitan dan Sido Pandjaitan.

Dengan mengibarkan bendera Panbers, mereka merintis karier mereka di ibukota, mulai dari mengisi acara-acara hiburan di pesta sekolah dan pesta anak muda yang kala itu dikenal dengan ‘pesta dayak’. 

Dengan modal tekad yang bulat serta perjuangan yang gigih mereka mencoba mencipta lagu dan membawakannya di pests-pesta masa itu. Satu nomor yang tak henti mereka bawakan adalah Akhir Cinta, sebuah nomor yang melodius yang tiada bosan mereka hantarkan dimana saja mereka mengadakan pertunjukan. Lewat nomor tersebut pulalah nama Panbers mulai dikenal dan membuat era baru dalam dunia musik Indonesia.

Perjalanan karier Panbers diawali dengan kemunculan pertamanya lewat panggung Istora Senayan pada acara Jambore Bands 1970 yang membawa nama Panbers lebih dikenal luas. Terlebih setelah kesempatan muncul di televisi terbuka sudah buat mereka. Maka melengkinglah lagu-lagu orisinil karya mereka sendiri seperti Bye Bye, Jakarta City SOund, Akhir Cinta, Hanya Semusim Bunga dan Hanya Padamu.

Keberhasilan performance mereka di televisi rupanya menarik perhatian bapak Digta Mimi, seorang Manajer perusahaan piringan hitam Dimita Molding Industries, yang kemudian mengantar kelompok Panbers ke dunia rekaman. Mereka diberi kepercayaan untuk mangabadikan lagu-lagu mereka ke dalam bentuk piringan hitam ebonite. Seperti yang telah diketahui, muncullah hit mereka yang abadi, Akhir Cinta yang selalu terpatri di hati penggemar blantika musik Indonesia. Satu tahapan kesuksesan mereka terenggut lewat long play ke-49 produksi PT. Dimita yang bersejarah itu.

Keberhasilan Panbers di dunia rekaman merupakan awal dari kebangkitan grup band di dalam dunia musik Indonesia yang masa itu di dominir oleh penyanyi-penyanyi tunggal. Kelompok Koeswoyo Bersaudara yang sebagai perintis di tahun 60-an, kemudian kemunculan Panbers di awal tahun 1972 yang secara tepat diikuti oleh sekian puluh kelompok pemusik yang meramaikan dunia musik Indonesia hingga saat ini.

Untuk mengikuti perkembangan musik, Kelompok Panbers yang telah kehilangan Hans Pandjaitan, menambah personel ke dalam grup mereka yaitu Maxi Pandelaki yang diberi kesempatan untuk mengisi posisi bas. Sedangkan, Hans Pandjaitan diganti dengan seorang musikus yang bernama Hans Noya.

Panbers telah menciptakan lebih dari 700 lagu dalam ratusan album, baik yang beraliran pop, rock, rohani, keroncong bahkan melayu. Hingga kini kelompok Panbers masih eksis meramaikan dunia musik Indonesia, tidak hanya aktif show-show ke daerah-daerah namun mereka juga masih meliris album.

Beberapa lagu Panbers antara lain Gereja Tua, Cinta dan Permata, Kami Cinta Perdamaian, Indonesia My Lovely Country, Akhir Cinta, Jakarta City Sound, Haai, dan Terlambat Sudah.

Sumber : Wikipedia

The Mercy's




The Mercy’s berasal dari Medan, Sumatra Utara. Band yang dibentuk tahun 1969 ini digawangi oleh  Erwin Harahap (lead guitar), Rinto Harahap (bass guitar), Rizal Arsyad (rhythm guitar), Reynold Panggabean (drums) dan Alexander “Bun” (keyboards). Charles Hutagalung kemudian masuk dan menggantikan Alexander. 

Charles dan Rinto adalah personil yang banyak menulis lagu untuk The Mercy's. Berikutnya, Albert Sumlang bergabung dan menambahkan saxophone sebagai perangkatnya (Catatan: Albert meninggal tahun 2009. Dia dikenang sebagai pencipta hit Kisah Seorang Pramuria yang diciptakan, dinyanyikan dan dimainkan dengan saxophonenya).

Berikut ini lirik lagunya :
KISAH SEORANG PRAMURIA
Mengapa di dunia ini
Selalu menertawai
Hidupku yang hina ini
Berteman dengan seorang gadis
Mengapa semua manusia
Menghina kehidupannya
Mencari nafkah hidupnya
Sebagai seoang Pramuria
Semua itu tiadu arti bagiku
Ku anggap s’bagai penguji imanku
Kiranya Tuhan jadi saksi hidupku
Betapa sucinya jalinan cintaku
Walaupun hinaan ini
di tujukan pada diriku
Namun ku s’lalu tersenyum
Kar’na cintaku suci padanya
Semua itu tiada arti bagiku
Ku anggap s’bangai penguji imanku
Kiranya Tuhan jadi saksi hidupku, oh
Betapa sucinya jalinan cintaku
Walaupun hinaan ini
di tujukan pada diriku
Namun ku s’lalu tersenyum
Kar’na cintaku suci padanya
Namun ku s’lalu tersenyum
Kar’na cintaku suci padanya


Favourite's Group



Rek ayo rek m’laku-m’laku nang Tunjungan (ayo ngan)
Rek ayo rek rame-rame bebarengan (ayo ngan)


Mungkin ada beberapa yang ingat lagu di atas yang pernah populer oleh Mul Mulyadi, penyanyi keroncong kakak Mus Mujiono ini? Kalo ingat mungkin ingat juga Is Haryanto sang penabuh drum Favourite's Group.

Tanggal 26 Maret 2009 kemarin, pada usia yang ke 69 telah meninggal Is Haryanto, sang pencipta Rek Ayo Rek dan tokoh musik Indonesia. Is Haryanto adalah salah satu personil Favourite's Group yang pernah digawangi almarhum A Riyanto dan Mus Mulyadi di era tahun 70an. Beliau meninggal dikarenakan sakit kanker dan dirawat di RSPP Jakarta dan dikebumikan di Tempat Pemakaman Umum (TPU) Kampung Kandang, Jagakarsa, Jakarta Selatan.

Pria kelahiran Tegal, 22 Agustus 1940 ini banyak memiliki lagu-lagu hits di eranya antara lain "Rindu Asmara", "Kau S'makin Mempesona", "Hilang Permataku", dan "Sepanjang Jalan Kenangan". salah satu anak Is Haryanto mengikuti jejak di industri musik, yakni Vien Is Haryanto.
D'Lloyd





D’Lloyd ini terdiri dari Bartje van Houten (gitar), Sjamsuddin (vokal), Chairul (drum), Totok (bas), Budi (kibor), dan Yuyun (saksofon/flute). Berdiri pada 1969, kemudian rekaman 1972, D’Lloyd (berasal dari kata Djakarta Llyod) tetap awet sampai sekarang.
Kumpulan D'LLoyd merupakan kumpulan yang terkenal di era 70-an hingga kini.Lagu-lagunya seperti Keagungan Tuhan, Tak Mungkin, Oh Di Mana, Karena Nenek, Semalam di Malaysia, Cinta Hampa dan Mengapa Harus Jumpa cukup mempesona serta meghiburkan.Kebanyakan lagu-lagu popular D'Lloyd dicipta oleh pemain bass guitar kumpulan itu, Bartje Van Houten (Barce).Vokalis utamanya, Syamsuar Hasyim (Sam).

God Bless

God Bless adalah grup musik Rock dari Surabaya, Indonesia, yang dibentuk pada tahun 1973.

Dasawarsa 1970-an bisa dianggap sebagai tahun-tahun kejayaan mereka. Salah satu bukti nama besar mereka adalah sewaktu God Bless dipilih sebagai pembuka konser grup musik Rock Legendaris Dunia, Deep Purple di Jakarta pada tahun 1975.
Walau tidak banyak merilis album, God Bless dianggap sebagai "Legenda grup musik Rock Indonesia", God Bless dianggap sebagai pelopor yang memiliki kualitas bermusik tinggi.

Sepanjang perjalanannya, God Bless mengalami 15 kali lebih pergantian personil. Formasi saat ini tinggal Ahmad Albar (vokal), Ian Antono (gitar), dan Donny Fattah Gagola (bass) yang masih dapat dikatakan sebagai personil aktif.
Pada awal Mei 2009, God Bless mengeluarkan album terbarunya yang berjudul 36th.

Anggota :
Ahmad Albar - Vokal
Ian Antono - Gitar
Donny Fattah Gagola - Bass
Abadi Soesman - Kibor
Yaya Moektio - Drum

Mantan Anggota :
Eet Sjahranie (Edane) - Gitar
Dedy Dores - Gitar
Jockie Surjoprajogo - Kibor
Indra Ras - Kibor
Teddy Sujaya - Drum
Keenan Nasution - Drum
Gilang Ramadhan - Drum

Diskografi :
God Bless (1975)
Cermin (1980)
Semut Hitam (1988)
Raksasa (1989)
Apa Kabar (1997)
36th (2009)

Kompilasi :
The Story of God Bless (1990)
18 Greatest Hits of God Bless (1992)


AKA


AKA berasal dari nama Apotek Kali Asin di Surabaya, dengan anggota Ucok Harahap, Soenatha Tanjung, Arthur Kaunang, Syech Abidin.

Blantika rock Indonesia mengenal sosok Ucok Harahap ketika ia bersama bandnya, AKA mampu menggemparkan panggung musik Indonesia lewat aksi-aksi teatrikalnya di dekade 70an. Ketika banyak band bermunculan di dekade itu, AKA mampu menyeruak dengan tingkah laku para anggotanya yang bisa dikatakan sinting, terutama sang vokalis, Ucok yang berambut kribo. 

Ucok memukau dengan aksi mistik layaknya menggantung diri di tengah lagu setelah sebelumnya dicambuk oleh para algojo. Pernah dalam suatu pertunjukan di TIM medio 70an' Ucok kerasukan makhluk halus setelah melakukan aksi keluar dari peti mati. Di luar skenario, Ucok yang berhasil keluar dari peti lalu lari ketakutan melompati genteng setinggi orang dewasa, sementara musik rock yang dimainkan tiga rekannya tetap meraung mengiringi aksi 'dadakan' dari Ucok. Alhasil penonton pun terpukau dan bertepuk tangan meriah. Tahun 1975, para anggota AKA berpisah. Sementara Sonatha Tanjung (gitar), Arthur Kaunang (bas) dan Sjech Abidin (drum) membentuk SAS, Ucok membentuk Ucok and His Gangs serta sukses bersama Achmad Albar dalam membentuk grup Duo Kribo.

Hampir 35 tahun kemudian ketika usianya menginjak kepala enam, Ucok masih juga melakukan aksi gilanya. Pada perhelatan Jakarta Rock Parade di tahun 2008, Ia yang masih saja memelihara rambut gondrongnya walau sudah memutih dan botak di atasnya, kembali 'digantung' dengan posisi kepala di bawah, sebelumnya ia juga sempat dicambuk oleh dua algojo. Aksinya tidak hanya di situ, Ucok yang terlihat sangat rindu bermain di panggung besar juga melakukan head stand, bermain kibord dengan kaki dan 'bercinta' dengan drum. 

Sementara tiga rekannya di AKA beralih profesi menjadi penyiar agama, Ucok tetap memegang teguh musik rock di relung hatinya, bahkan hingga akhir hayatnya. Ia beberapa kali tampil di stasiun TVRI bersama musisi yang lebih muda membawakan nomor-nomor klasik AKA seperti Shake Me, Crazy Joe atau Badai Bulan Desember. Selamat jalan Ucok! (*) rio


SAS Group


Susunan formasi personil SAS sama dengan AKA, hanya minus Ucok Harahap. Arthur tetap memainkan bass guitar, keyboard dan piano. Arthur memainkan bass guitar dengan posisi senar tidak berubah. Tangan kidalnya memainkan bass guitar dengan teknik memegang accord sangat karakteristik. Sebenarnya nama lengkap Arthur adalah Arthur Victor George Jean Anesz. Semenjak di AKA, Arthur menyingkatnya dengan Arthur Anesz. Barulah ketika merilis album ke 5 (lima) SAS Group ’80, ia merubah menjadi Arthur Kaunang.

Sunatha Tandjung memainkan Guitar, harmonika dan biola. Teknik bermain Sunatha banyak dipengaruhi oleh Richi Blackmore, “Dewa Gitar” dari Deep Purple dan Toni Iomi dari Black Sabbath. Wajahnya yang “Cold”, sangat berbeda dengan kegarangannya di panggung ketika mencabik gitarnya. Terlebih ketika menggesek biola saat pertunjukkan, gitar mautnya ditanggalkan dan mengalunlah suara biola, maka tak ayal tepuk riuh penonton menggelegar. Simak lagu Greensleeves selain memainkan gitar, koor, Sunatha juga bermain biola dengan manis.

Sedangkan penggebuk bedug Inggris dipercayakan Syech Abidin Jefri. Arek Ampel keturunan Arab bersuara khas dengan vibrasi keroncong, dahulu selalu menggunakan kaos bergambar “Bintang Gatot Kaca”. Syech Abidin adalah anggota SAS yang paling produktif didalam menciptakan komposisi lagu.

Kehadiran Trio SAS Group mengingatkan pada group-group rock lainnya dengan formasi tiga personil seperti : Rush (Canada ), ELP (UK) atau Grand Funk Raillroad (USA) . Atau group anak negeri seangkatan mereka, misal Super Kid yang beranggotakan Deddy Stanzah, Jelly Tobing dan Deddy Dores. Keahlian / skill yang prima dari anggota band trio adalah hal penting, terlebih apabila memainkan instrumen sambil bernyanyi.

Demikian juga dengan SAS, selain piawai memainkan instrumennya, personil SAS memiliki kemampuan dalam olah vokal, bahkan mencipta lagu. Lagu Summer Sun (album SAS Vol 2) diciptakan sekaligus dinyanyikan Sunatha Tanjung. Lagu Sirkuit (album Sirkuit) diciptakan sekaligus dinyanyikan Atrthur Kaunang. Atau Lagu Lapar (Album SAS Volume 4) diciptakan sekaligus dinyanyikan oleh Syech Abidin. Hampir semua lagu yang bernuansa nge-pop sebagian besar diciptakan sekaligus dinyanyikan oleh Syeh Abidin. Syeh biasanya menyanyikan dengan nuansa “keroncong”nya. Sebagaimana The Beatles, bila John Lennon menciptakan lagu maka John-lah yang menyanyikan lagu tersebut, bukan Paul McCartney. Demikian halnya dengan SAS, bila yang menciptakan lagu adalah Syech hampir bisa dipastikan bahwa Syech Abidin-lah pelantun tembangnya. Seperti lagu Rindu, Kasihku bungaku, Untuk dirimu dan lain sebagainya. Berbeda sekali dengan lagu yang nge-rock terutama yang berlirik Bahasa Inggris, diciptakan Arthur Kaunang. Dan dapat dipastikan : Arthur Kaunanglah penyanyinya. Kendati tidak sebanyak kedua rekannya, Sunatha Tanjung juga dapat memainkan instrumennya menciptakan lagu, sekaligus menyanyikannya.

Penampilan SAS di panggung sangat berbeda dengan penampilan AKA. Tidak lagi gila-gilaan sebagaimana AKA, atau menakutkan sebagaimana Trencem. SAS tidak mengusung gaya tearikal ala Black Sabbath, atau berdandan ala Alice Cooper. Mereka mengedepankan bermain musik sebagaimana ELP. Atraksi panggung mereka sebagaimana group band konvesional, Arthur sebagai sentral penampilan SAS on Stage. Bahkan acapkali action Solo-Bass Arthur membuat penonton berdecak kagum…

Di dapur rekaman, mereka memilih perusahaan berbendera Indra Record yang berada di Surabaya. Barulah ketika lama vakum di tahun 87-an akhirnya mereka pindah ke Jakarta dan merekam lagu mereka tidak lagi dibawah bendera Indra Record, dan berikut urutan perjalanan album SAS Group. SAS Group Vol.1, SAS Vol II, SAS Vol-3, Sas Group Vol 4 - LAPAR, SAS Group’80, SAS 1981, Episode Jingga, Sirkuit, Dan SAS-pun akhirnya menyudahi karya mereka dengan album terakhir Metal Baja . Walaupun belum ada pernyataan resmi bubarnya SAS, tapi hingga sekarang mereka telah mati-suri di blantika musik cadas tanah air.

Sekarang masing - masing personil sudah mulai menikmati harituanya. Sunatha Tanjung mengundurkan diri dari dunia musik hingar bingar dan konon menjadi pendeta seperti yang dilakukan Alex Kembar Group atau Ade Manuhutu. Arthur sesekali muncul di pub-pub untuk mengobati kerinduannya bermusik dan punya anak artis cantik terkenal Tessa Kaunang. Syech Abidin telah mewariskan bakat ngebandnya ke anak-anaknya yang sekarang mendirikan Gift-Band, Fariz (drumer), Fahrur (vokal), Fahim (bas), dan Zakaria (gitar). Sementara dikhabarkan bahwa Ucok AKA Harahap, yang memang nomaden, pernah menetap di Jakarta. Sempat pula tinggal di Yogya selama 2 tahun, pernah juga berada di Muntilan. Sesekali muncul di CafĂ©-nnnn Lawang dengan mobil “Batman”-nya.

Sumber : ravindata.multiply.com


The Rollies


The Rollies diawali ketika Deddy Sutansyah bertemu dengan Iwan Krisnawan dan Teuku Zulian Iskandar Madian dari grup Delimars serta Delly Djoko Alipin dari grup Genta Istana. Deddy mengajak mereka bergabung dalam sebuah grup yang diberi nama Rollies pada bulan April 1967. Orangtua Deddy yang pengusaha hotel menjadi penyandang dana dan menyediakan semua peralatan musik yang diperlukan. Rollies mulai malang melintang di negeri sendiri dengan membawakan lagu-lagu The Beatles, Bee Gees, Hollies, Marbles, Beach Boys, Herman Hermits, juga lagu populer dari Tom Jones dan Engelbert Humperdink. Setelah itu baru mereka mengisi acara di kelab malam Singapura tahun 1969.

Ketika tampil di negeri jiran itu, personel Rollies sudah diperkuat Gito dan Benny Likumahuwa. Lagu yang mereka bawakan pun berkembang dan mulai mengandalkan alat musik tiup, masa trade-mark Rollies sebagai pembawa lagu-lagu James Brown BST (Blood Sweat and Tears) dan Chicago dimulai. Di sana mereka tidak hanya berkesempatan manggung.

Dari band inilah muncul nama Gito Rollies yang ikut meramaikan blantika musik Indonesia.

Sumber : opinibureto.blogspot.com


Share this article :

Poskan Komentar

 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Copyright © 2011. MohPahPoh - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger