Showing posts with label Psikologi. Show all posts
Showing posts with label Psikologi. Show all posts

Sekilas Tentang Kemajuan Pola Pikir Manusia

Sekilas Tentang Kemajuan Pola Pikir Manusia

Kita hidup di jaman yang memberikan penghuninya kesempatan terbaik untuk mendengarkan dirinya. Sekarang manusia bisa mendapatkan apa yang benar-benar dia inginkan. Mulai dari makanan apa yang dia sedang menarik seleranya, lengkap dengan bagaimana cara makanan tersebut dimasak. Pekerjaan apa yang dia inginkan. Sampai, bagaimana cara bagi dirinya untuk mendidik dirinya sendiri untuk mendapatkan pekerjaan tersebut. Manusia di jaman ini benar-benar mendapatkan kesempatan untuk mengatur hidup dan meraih impiannya. Manusia di jaman ini mendapatkan kesempatan sebesar-besarnya untuk menjadi bahagia karena dapat menjadi dirinya sendiri.

Kondisi yang membebaskan ini tidak serta merta dimiliki oleh manusia, tapi juga didukung oleh perkembangan teknologi serta -yang lebih penting- perkembangan cara berpikir manusia. Maka, tentu saja pembicaraan mengenai pentingnya mendengarkan diri sendiri harus dimulai dari pembahasan sejarah mengenai bagaimana usaha manusia hingga sampai pada titik di mana mereka menyadari pentingnya mendengarkan diri sendiri. Pembahasan mengenai hal ini penting agar, selain kita mengetahui pentingnya mendengarkan diri sendiri, kita juga menyadari bahwa kondisi yang membuat kita bebas mendengarkan diri sendiri tidak datang begitu saja, tapi telah melalui perjuangan dan pemikiran yang panjang.

Kira-kira, masa di dunia berdasarkan kebebasan manusia untuk mendengarkan diri sendiri dapat dibagi kedalam tiga kategori jaman, yaitu, (1) jaman di mana manusia harus mencocokkan diri dengan dunia sekitarnya, (2) jaman di mana manusia mulai menyadari pentingnya menjadi diri sendiri dan mendengarkan diri sendiri, dan (3) jaman di mana manusia mulai menjadi diri sendiri. Ketiga kategori ini adalah hasil observasi pribadi penulis, dan mungkin saja di kemudian hari akan terbukti salah.

JAMAN PERTAMA

Jaman pertama dimulai sejak pertama kali manusia memiliki pekerjaan sampai pada pertengahan abad ke-20 (yang saya maksud abad ke-20 adalah sejak 1900 dan berakhir di tahun 1999). Tentu saya tidak akan membahasnya semenjak masa hanya ada dua pekerjaan di dunia: berburu dan membesarkan anak. Saya hanya akan membahas akhir jaman pertama ini. Dengan memperlakukan peneliti psikologi sebagai seorang sejarawan, menurut saya peneliti yang paling mewakili jaman ini adalah Lev S. Vygotsky (1896-1934).

Vygotsky menemukan bahwa budaya amat mempengaruhi kesuksesan belajar anak. Anak yang sukses adalah anak yang dapat mengikuti keinginan budayanya. Maksudnya, anak yang sukses adalah anak yang dapat bekerja atau menciptakan sesuatu yang dapat diterima oleh budayanya. Anak harus mengikuti tuntutan budayanya. Misal, anak yang hidup di pantai akan sukses jika dia dapat menjadi seorang nelayan atau menciptakan sesuatu yang dapat membantu pekerjaan sebagai nelayan.

Pada jaman Vygotsky ini, seseorang akan lebih sukses jika mengikuti tuntutan masyarakatnya daripada menjadi diri sendiri. Orang itu beruntung jika tuntutan masyarakat sesuai dengan keinginannya. Jika tidak, pilihannya adalah menyerah pada tuntutan lingkungan, atau memberontak dan harus berani hidup dalam kategori “tidak sukses”. Jaman ini ditandai dengan adanya kategori pekerjaan yang “sukses” (misal, pengacara, dokter atau insinyur) dan “tidak sukses” (misal, seniman).

JAMAN KEDUA

Tapi kemudian jaman bergerak dan memasuki era baru. Era dimana manusia mulai menyadari pentingnya menjadi diri sendiri. Jaman ini diwakili oleh Carl Rogers (1902-1987) dan berkembang di akhir abad ke-20 (1950-an ke atas). Pada jaman ini, Rogers –melalui pengalaman praktek bertahun-tahun— menemukan bahwa orang yang memiliki gangguan kesehatan psikologi adalah orang yang menemukan ketidakcocokan antara dirinya (organismic experience) dan gambaran dirinya yang dia dapat dari harapan orang lain (bagian dari self-concept).

Gangguan kesehatan psikologis ini hadir karena tuntutan yang diberikan kepada dia (conditions of worth) membentuk gambaran diri (self-concept) yang berbeda dari siapa dirinya sebenarnya. Dan saat dirinya harus menjalani hidup yang berbeda dari keinginannya, dia tidak merasa bahagia. Tapi, mau tidak mau dia harus menuruti tuntutan lingkungannya (misal, perintah orang tua bahwa untuk jadi sukses, dia harus menjadi dokter dan meninggalkan keinginannya menjadi pelukis) karena dengan menuruti harapan lingkungan, baru dia merasa dihargai oleh lingkungannya.

Jaman ini ditandai dengan manusia yang mulai menerima dirinya sendiri, walau masih dalam bentuk hobi (misal, orang yang merasa memiliki darah seni akan meluangkan waktu dengan melukis atau karaoke). Orang yang bahagia di jaman ini adalah orang yang dapat mendengarkan dirinya sendiri.

JAMAN KETIGA

Jaman ketiga ini berkembang pada awal abad ke-21. Mungkin mereka yang dapat mewakili jaman ini adalah Martin Selligman (peneliti yang membahas mengenai kebahagian diri) dan Howard Gardner (peneliti Multiple Intelligence).

Selligman memaparkan bahwa kebahagiaan akan dimiliki jika manusia menerima dirinya apa adanya. Konsep ini melahirkan pendekatan Psikologi Positif, yaitu melakukan perubahan pada manusia dengan cara berfokus pada peningkatan kekuatan orang tersebut, daripada memperbaiki kekurangan-kekurangannya. Hal ini dilakukan karena ditemukannya kenyataan bahwa memperbaiki kekurangan hanya akan memberikan hasil seadanya, sedangkan meningkatkan kekuatan (bakat) seseorang akan melejitkan potensi orang tersebut, padahal kedua usaha tersebut dilakukan dengan tenaga yang sama (saat ini, sudah mulai ada perusahaan di Indonesia yang menerapkan pendekatan ini pada karyawannya).

Pendekatan Psikologi Positif ditopang oleh penemuan Gardner bahwa selain kecerdasan intelektual (kecerdasan yang dikategorikan intelektual adalah logis-matematis), masih ada kecerdasan lain (linguistik, spasial, interpersonal, dll). Dan jika seseorang merasa kuat di kecerdasan yang bukan intelektual, maka –mengikuti prinsip Psikologi Positif— lebih baik orang tersebut berkonsentrasi pada bakatnya daripada memperbaiki sesuatu yang sebenarnya tak akan memberikan hasil yang memuaskan.

Jaman ini ditandai dengan makin dihargainya profesi yang tadinya dianggap sebagai profesi yang “tidak sukses” yang disebutkan di atas, serta mulai adanya orang-orang yang berpindah profesi untuk mendapatkan pekerjaan yang mereka dambakan (Carl Rogers sendiri adalah orang yang melepaskan harapan orang tuanya agar dia menjadi seorang petani demi impiannya untuk menjadi praktisi dan peneliti psikologi).

Sebagai penutup, jaman ini adalah jaman dimana menjadi diri sendiri sudah tidak dianggap sebuah pemberontakan, tapi dianggap sebagai sebuah kekuatan. Untuk menyadarinya, manusia memerlukan waktu bertahun-tahun (lihat saja pergeseran dari “jaman satu” ke “jaman dua” yang memakan waktu lima puluh tahun). Oleh karena itu, kita harus merayakan kemajuan cara berpikir manusia –yang merupakan pertanda terus berlanjutnya evolusi pemikiran— dengan menanyakan pada diri kita “mau jadi apa kita?” dan membiarkan anak kita berkembang sesuai dengan potensinya.

Sumber: Bina Insan Mandiri melalui Promitmen
Read More

Manakah yang Bikin Cepat Tua: Marah atau Bohong?

Manakah yang Bikin Cepat Tua: Marah atau Bohong?
Mungkin banyak yang bertanya, bagaimana seseorang berbohong akan menjadi cepat tua. Pertanyaan ini bisa kita jawab dengan logika ilmiah.

Berbohong adalah sebuah aktivitas psikologis yang bersifat menekan atau merepres atau menyembunyikan sesuatu. Berbohong adalah sebuah perilaku maldaptif yang menimbulkan rasa ketidakpuasaan secara psikologis. Pada dasarnya, dalam kondisi normal, tidak ada orang mau yang mau melakukan sebuah kebohongan. Kebohongan terjadi karena merasa ada ancaman dari luar, jika dia mengatakan apa yang sesungguhnya.

Perilaku maldaptif dan perasaan ketidaknyamanan secara psikologis karena berbohong, akan mempengaruhi seluruh sistem dalam tubuh kita. Dia akan mempengaruhi kondisi fisik secara langsung. Kita tahu bahwa, segala aktivitas psikologis kita (emosi, cemas, cinta, tertekan dan lain lain) diatur oleh sistem syaraf berupa neurotransmitter dengan kadar tertentu, sehingga perasaan-perasaan diatas bisa kita rasakan. Misalnya, kadar neurotransmitter dopamine yang tinggi akan menambah rasa cinta dan rasa aman.

Bagaimana dengan orang yang berbohong? Dengan adanya tekanan psikologis karena merasa bersalah atau merasa was-was akan terjadi sesuatu, tubuh kita akan mendefenisikannya, dalam hal ini sistem neurotransmitter. Sistem syaraf akan melepaskan neurotransmitter yang sesuai dengan perasaan tadi.

Sistem syarat yang bekerja pada saat berbohong sama dengan sistem syaraf kita pada saat marah. Tetapi, kondisi sistem syarat kita pada saat marah akan lebih stabil dengan mengeluarkan secara teratur neurotransmitter yang mengatur perasaan marah (marah yang ekspresif).

Berbeda dengan orang yang suka berbohong, neurotransmitter yang dilepaskan kemungkinan akan saling bertolak belakang, dan aktivitasnya tidak teratur. Sehingga bisa di rasakan, mengapa orang yang berbohong, kadang merasa aman, kadang merasa terancam. Ini karena ketidak teraturan pengeluaran neurotransmitter.

Kalau ada orang yang mengatakan bahwa marah akan menyebabkan cepat tua, mungkin berbohong akan lebih cepat lagi. Jika orang sedang marah, ekspresi tuanya kita bisa lihat dalam tampilan yang sesungguhnya, tetapi orang yang berbohong, tidak bisa diprediksi bagaimana tampilan wajah yang sesungguhnya, yang jelas dia tergorogoti tekanan psikologis dari dalam dan dia akan muncul lebih para dari ekspresi marah.

Melakukan kebohongan sangat berbanding terbalik dengan kejujuran. Bohong adalah sifat tidak mau menerima, melawan, atau menyembunyikan. Dia identik dengan murung, judes, diam, dan lain-lain. Sedangkan kejujuran lebih pada sikap yang adaptif, menerima apa adanya, merasa enjoy menjalani hidup, dan dia identik dengan senyuman, keramahan, dan persahabatan.

Sumber : psychologymania.com

Read More

10 Cara Alami Hentikan Tekanan Bathin

10 Cara Alami Hentikan Tekanan Bathin
  • Hidup ini berat.
  • Apa inti dari segala sesuatu?
  • Aku tak pernah merasa bahagia.

Apakah point di atas pernah terbersit dalam pikiran Anda? Tampaknya begitu. Kadang perasaan sedih bisa dianggap normal, tapi bukan berarti mudah mengatasinya. Jika dibiarkan berlarut-larut, pikiran negatif akan makin memburuk dan menimbulkan tekanan batin/ depresi serius. Itulah sebabnya perlu segera diantisipasi sejak dini agar hidup Anda tidak terpuruk.

Mungkin saran berikut ini tidak bisa mengurangi masalah Anda, tapi setidaknya bisa membantu mencegah munculnya pola pikir negatif yang pada akhirnya akan menghentikan tekanan batin Anda. Jika Anda merasa punya masalah kesehatan mental yang serius, jangan ragu untuk menemui dokter spesialis yang kompeten.

1. Memahami siklus emosional.
Hidup ini tak lepas dari fluktuasi emosional - kadang naik, kadang turun. Ada kalanya Anda merasa sangat bersemangat, namun suatu saat seperti mobil kehabisan bensin. Namun seringkali Anda berada di antara keduanya. Memahami pola emosi positif dan negatif akan membantu menempatkan perasaan Anda secara tepat. Saat Anda merasa galau, ingatlah bahwa itu adalah emosi alami yang pasti akan berlalu. Mengetahui bahwa tekanan batin bersifat temporer akan mengurangi kegalauan yang berlebihan.

2. Berteman dengan orang-orang baik
Cara berpikir dan perasaan Anda tak lepas dari interaksi Anda dengan orang lain. Pikiran (baik positif maupun negatif) bersifat menular. Jika Anda dikelilingi oleh orang berperangai buruk, wajar jika Anda mulai berpikir dan merasakan perilaku yang sama. Untuk memperbaiki sikap buruk Anda, bergaullah dengan orang-orang baik. Cari mereka dan coba pahami cara mereka menjalani kehidupan.

3. Bercermin pada keberhasilan masa lalu
Saat mengalami kegagalan, keberhasilan yang pernah diraih akan mudah terlupakan. Luangkan waktu untuk mengingat prestasi Anda di masa lalu dan bangkitkan kembali diri Anda. Apa yang membuat Anda sukses waktu itu? Apa keunggulan Anda? Jika dilakukan secara rutin, latihan ini akan membangun rasa percaya diri, membantu Anda menemukan kesalahan yang menjadikan Anda gagal, dan memunculkan ide-ide yang akan membuat Anda berhasil di masa depan.

4. Selalu bersyukur
Adalah manusiawi membandingkan diri sendiri dengan orang lain yang lebih berhasil. Penelitian menunjukkan, bahwa orang ingin lebih kaya daripada teman-teman mereka, tapi tidak melakukan upaya yang lebih. Saat Anda merasa hidup Anda lebih baik dibandingkan dengan orang lain yang kurang beruntung, bersyukurlah dan ini akan membuat tekanan batin Anda berkurang.

5. Merubah suasana
Satu cara terbaik merubah perasaan Anda adalah berganti suasana. Saat Anda terpuruk, Anda akan menghubungkan masalah Anda dengan segala sesuatu di sekitar Anda. Hal ini bisa menjadi siklus yang berbahaya. Solusinya adalah merubah sesuatu. Perubahan tak perlu dilakukan secara radikal. Bersih-bersih rumah, menambahkan pencahayaan dalam ruangan, atau menambahkan dekorasi yang menyenangkan akan merubah mood sebuah ruangan.

6. Tinggalkan rutinitas
Melakukan hal yang sama secara rutin setiap hari bisa membuat bosan dan tertekan. Hal ini seringkali menjebak kita pada kebiasaan. Untuk keluar dari situ Anda perlu melakukan perubahan. Jika bisa, ambillah cuti. Lakukan sesuatu yang tidak pernah Anda lakukan atau coba. Dalam jangka panjang, cuti untuk keluar dari rutinitas akan membuat Anda lebih bahagia dan produktif.

7. Beriteraksi dengan hewan dan alam
Betapa menggelikannya melihat orang menganggap masalah kecil mereka begitu pentingnya. Hewan tidak demikian. Burung kecil tidak galau hanya karena ia bukan elang atau karena burung lain dapat biji-bijian lezat. Hewan hidup untuk saat ini dan menunjukkan cinta tanpa syarat. Mengamati dan berinteraksi dengan mereka aka membantu Anda melewati masa-masa sulit yang membuat galau.

8. Bergerak
Saran Johnny Cash yang terkenal, “Get a rhythm, when you get the blues.” Bergerak mengikuti irama membuat orang merasa nyaman. Hal ini berlaku secara umum. Mendatangi gym atau sekedar jalan-jalan akan membantu meredakan kelesuan yang muncul dari rasa tertekan. Jika Anda makin bersemangat melakukannya, perasaan Anda akan jauh lebih baik.

9. Berpikir seluas-luasnya
Kita hanyalah sebutir debu di alam semesta yang maha luas ini. Dengan kata lain, apa yang kita lakukan mungkin akan terlupakan. Ada yang merasa hal ini membuat tertekan, padahal seharusnya tak perlu. Artinya, semua masalah yang kita hadapi hanyalah ilusi. Dalam satu juta tahun yang akan datang tak akan ada seorangpun yang ingat apa yang Anda lakukan atau tidak lakukan. Yang penting adalah momen saat ini dan menikmati setiap detiknya dengan penuh rasa syukur.

10. Berbuat sesuatu untuk membantu diri Anda sendiri
Dari semua itu, cara terbaik untuk mengatasi depresi adalah melakukan sesuatu. Apa masalah terbesar Anda? Bagaimana cara mengatasinya? Begitu Anda memutuskan untuk berhenti galau dan mulai bergerak, Anda tidak akan punya waktu lagi untuk merasa depresi. Bertindak akan membuka pikiran Anda dan membimbing Anda untuk maju. Sekali Anda memperoleh hasil, Anda akan kembali bersemangat dan dengan berpikir positif akan menjadikannya lebih mudah.

Sumber : Pickthebrain.com | Foto : Shutterstock

Read More

5 Tahun dari Hidup Kita Habis Untuk Galau

5 Tahun dari Hidup Kita Habis Untuk Galau
Jika ada sesuatu yang membuat Anda cemas atau khawatir, jangan terlalu dirisaukan, karena Anda bukan satu-satunya orang di dunia ini yang mengalaminya.

Menurut sebuah survei, warga Inggris yang mengalami stres menghabiskan waktu yang setara dengan 5 tahun dari hidup mereka untuk mencemaskan sesuatu.

Orang dewasa rata-rata kehilangan waktu 2 jam per hari merisaukan hal-hal seperti masalah keuangan pribadi, kesehatan, menua, jaminan kerja dan hubungannya dengan orang lain.

Penelitian tersebut juga menemukan kecemasan yang ekstrim yang membuat banyak di antara kita yang kehilangan konsentrasi kerja, menyebabkan susah tidur dan bahkan mengalami keretakan hubungan dengan pasangan.

Riset, yang didanai oleh sebuah lembaga kesehatan dan kesejahteraan terkemuka Benenden Health, menemukan bahwa rata-rata orang menghabiskan waktu 14 jam untuk galau.

Sekitar 45% di antaranya mengaku bahwa stres dan galau berdampak langsung pada kesehatan mereka.

Paul Keenan dari Benenden Health mengatakan, “Fakta yang memprihatinkan melihat bahwa stres mendominasi hidup kita dan berdampak buruk pada kinerja, kualitas tidur dan hubungan dengan orang lain”.

“32% orang harus pergi ke dokter karena kecemasan atau stress”.

Keprihatinan pada menurunnya stamina, ketakutan pada proses penuaan atau masalah pekerjaan adalah penyebab yang paling umum menimbulkan kekhawatiran.

Sementara itu ada pula yang menyimpan beban pikiran apakah pasangan mereka sudah tepat untuk mereka atau masih mencintai mereka.

Rata-rata orang dewasa mengalami 6 malam setiap bulan terganggu atau menurun kualitas tidurnya gara-gara galau.

Dan satu dari empat orang merasa sangat khawatir berperilaku yang tidak tepat atau sengaja menghindarinya.

Seperlima orang punya teman atau kerabat yang mereka rasakan lari dari masalah, sementara sepertiga orang merasa pasangan mereka menyimpan rahasia – dan kebanyakan menyangkut masalah keuangan.

Yang mengkhawatirkan, satu dari empat orang merasa tidak punya teman untuk curhat perihal masalah mereka.

Dan tiga dari sepuluh orang memendam banyak hal agar bisa menjalani hidup sehari-hari.

Lebih dari satu di antara sepuluh orang punya laporan keuangan dari bank, tagihan atau surat yang telah mereka buka dan menyingkirkannya jauh-jauh karena mereka terlalu takut membacanya.

Paul Keenan menambahkan, “Kurang menggembirakan jika melihat hanya 32% orang yang menyampaikan masalahnya pada dokter dan mencari bantuan profesional”.

Mereka butuh diyakinkan bahwa stres tidak akan mengganggu kehidupan mereka tanpa upaya untuk memperbaiki diri.

Mereka bisa melakukannya dengan menyadari bahwa masalah itu ada dan tidak menunggu berlarut-larut hingga berdampak pada kesehatan mereka.

Rata-rata orang mengalami 125 hari dalam kurun satu tahun dengan pikiran yang dihantui kekhawatiran.

Berikut ini 10 masalah yang paling membuat orang galau :
  1. Kegemukan
  2. Menjadi tua
  3. Tidak punya tabungan untuk masa depan
  4. Kesehatan
  5. Hutang
  6. Menurunnya stamina
  7. Tagihan kartu kredit
  8. Bayar sewa rumah
  9. Jaminan kerja
  10. Diet

Sumber : Daily Mail | Foto : psychiatry.emory.edu

Read More

Prinsip 90/10

Prinsip 90/10
Bagaimana prinsip 90/10 itu?
- 10% dari hidup Anda terjadi karena apa yang langsung Anda alami.
- 90% dari hidup Anda ditentukan dari cara Anda bereaksi.

Apa Maksudnya?

Anda tidak dapat mengendalikan 10% dari kondisi yang terjadi pada diri Anda.

Contohnya:
Anda tidak dapat menghindar dari kemacetan. Pesawat terlambat datang dan hal ini akan membuang seluruh schedule Anda. Kemacetan telah menghambat seluruh rencana Anda. Anda tidak dapat mengontrol kondisi 10% ini. Tetapi beda dengan 90% lainnya. Anda dapat mengontrol yang 90% ini.

Bagaimana caranya?
Dari cara reaksi Anda !!!. Anda tidak dapat mengontrol lampu merah, tetapi Anda dapat mengontrol reaksi Anda.

Marilah kita lihat contoh di bawah ini:

Kondisi:
Anda makan pagi dengan keluarga Anda. Anak Anda secara tidak sengaja menyenggol cangkir kopi minuman Anda sehingga pakaian kerja Anda tersiram kotor. Anda tidak dapat mengendalikan apa yang baru saja terjadi???

Reaksi Anda (1):
Anda bentak anak Anda karena telah menjatuhkan kopi ke pakaian Anda. Anak Anda akhirnya menangis. Setelah membentak, Anda menoleh ke istri Anda dan mengkritik karena telah menaruh cangkir pada posisi terlalu pinggir di ujung meja.

Akhirnya terjadi pertengkaran mulut. Anda lari ke kamar dan cepat-cepat ganti baju. Kembali ke ruang makan, anak Anda masih menangis sambil menghabiskan makan paginya. Akhirnya anak Anda ketinggalan bis. Istri Anda harus secepatnya pergi kerja. Anda buru-buru ke mobil dan mengantar anak Anda ke sekolah. Karena Anda telat, Anda laju mobil dengan kecepatan 70 km/jam padahal batas kecepatan hanya boleh 60 km/jam.

Setelah terlambat 15 menit dan terpaksa mengeluarkan kocek Rp 600.000,- karena melanggar lalu lintas, akhirnya Anda sampai di sekolah. Anak Anda secepatnya keluar dari mobil tanpa pamit. Setelah tiba di kantor di mana Anda telat 20 menit, Anda baru ingat kalau tas Anda tertinggal di rumah.

Hari kerja Anda dimulai dengan situasi buruk. Jika diteruskan maka akan semakin buruk. Pikiran Anda terganggu karena kondisi di rumah. Pada saat tiba di rumah, Anda menjumpai beberapa gangguan hubungan dengan istri dan anak Anda.

Mengapa? Karena cara Anda bereaksi pada pagi hari.

Mengapa Anda mengalami hari yang buruk?*
1. Apakah penyebabnya karena kejatuhan kopi?
2. Apakah penyebabnya karena anak Anda?
3. Apakah penyebabnya karena polisi lalu lintas?
4. Apakah Anda penyebabnya?

Jawabannya adalah No. 4 yaitu penyebabnya adalah ANDA SENDIRI !!!
Anda tidak dapat mengendalikan diri setelah apa yang terjadi pada cangkir kopi. Cara Anda bereaksi dalam 5 detik tersebut ternyata adalah penyebab hari buruk Anda.

Berikut adalah contoh yang sebaiknya atau seharusnya Anda sikapi.

Reaksi Anda (2):
Cairan kopi menyiram baju Anda. Begitu anak Anda akan menangis, Anda berkata lembut : "Tidak apa-apa sayang, lain kali hati-hati ya." Anda ambil handuk kecil dan lari ke kamar. Setelah mengganti pakaian dan mengambil tas, secepatnya Anda menuju jendela ruang depan dan melihat anak Anda sedang naik bis sambil melambaikan tangan ke Anda. Anda kemudian mengecup lembut pipi istri Anda dan mengatakan: "Sampai jumpa makan malam nanti."

Anda datang ke kantor 5 menit lebih cepat dan dengan muka cerah menegur staf Anda. Bos Anda mengomentari semangat dan kecerahan hari Anda di kantor.

Apakah Anda melihat perbedaan kedua kondisi tersebut?
2 (dua) skenario berbeda, dimulai dengan kondisi yang sama, diakhiri dengan kondisi berbeda.

Mengapa?
Ternyata penyebabnya adalah dari cara Anda bereaksi !. Anda tidak dapat mengendalikan 10% dari yang sudah terjadi. Tetapi yang 90% tergantung dari reaksi Anda sendiri.

Ini adalah cara untuk menerapkan prinsip 90/10. Jika ada orang yang mengatakan hal buruk tentang Anda, jangan cepat terpancing. Biarkan serangan tersebut mengalir seperti air di gelas. Anda jangan membiarkan komentar buruk tersebut mempengaruhi Anda.

Jika beraksi seadanya atau salah reaksi maka akan menyebabkan Anda: kehilangan teman, dipecat, stress dan lain-lain yang merugikan.

Bagaimana reaksi Anda jika mobil Anda mengalami kemacetan dan terlambat masuk kantor? Apakah Anda akan marah? Memukul stir mobil? Memaki-maki? Apakah tekanan darah Anda akan naik cepat?

Siapa yang peduli jika Anda datang telat 10 detik? Kenapa Anda biarkan kondisi tersebut merusak hari Anda? Cobalah ingat prinsip 90/10 dan jangan khawatir, masalah Anda akan cepat terselesaikan.

Contoh lain:

- Anda dipecat.
Mengapa Anda sampai tidak bisa tidur dan khawatir? Suatu waktu akan ada jalan keluar. Gunakan energi dan waktu yang hilang karena kekhawatiran tersebut untuk mencari pekerjaan yang lain.

- Pesawat terlambat.
Kondisi ini merusak seluruh schedule Anda. Kenapa Anda marah-marah kepada petugas tiket di bandara? Mereka tidak dapat mengendalikan terhadap apa yang terjadi. Kenapa harus stress? Kondisi ini justru akan memperburuk kondisi Anda. Gunakan waktu Anda untuk mempelajari situasi, membaca buku yang Anda bawa, atau mengenali penumpang lain.

Sekarang Anda sudah tahu prinsip 90/10. Gunakanlah dalam aktivitas harian Anda dan Anda akan kagum atas hasilnya. Tidak ada yang hilang dan hasilnya sangat menakjubkan. Sudah berjuta-juta orang menderita akibat stress, masalah berat, cobaan hidup dan sakit hati yang sebenarnya hal ini dapat diatasi jika kita mengerti cara menggunakan prinsip 90/10. (Stephen Covey)

Stephen Covey
Tidak ada manusia yang sempurna di dunia ini. 
Sikapilah segala sesuatu dengan hati yang lemah lembut, selalu positive – thinking, beraksilah secara positif, bukalah hati kita untuk saling mengampuni, dan berikanlah senyummu setiap hari niscaya hidup itu akan terasa indah.

Read More

Keberhasilan Kencan Anda Tergantung Bagaimana Anda Menggunakan Kata Ganti

Keberhasilan Kencan Anda Tergantung Bagaimana Anda Menggunakan Kata Ganti
Tak dapat dipungkiri bahwa kemampuan Anda mendapat kekasih pujaan hati (glek glek glek …) membutuhkan tutur kata yang halus tak dapat dibuktikan secara ilmiah. Kini, riset menemukan bahwa rahasia sukses kencan tergantung cara Anda menggunakan kata ganti (pronouns). 

James Pennbeaker, psikolog dari University of Texas Austin, sudah lama tertarik pada bagaimana bahasa membantu membentuk interaksi kita. Faktanya, ia membantu NPR mengetahui bagaimana cara kita berbahasa berpengaruh pada kencan kita. Pennbeaker merekam dan menganalisa percakapan yang muncul saat kencan kilat, dan menemukan bahwa cara pasangan kekasih menggunakan tutur kata adalah peramal yang baik untuk kelangsungan hubungan mereka. 

Secara khusus ia menemukan bahwa ketika menggunakan kata fungsi, seperti kata ganti, preposisi (kata depan) dan artikel, yang cocok di antara dua orang, mereka cenderung menuju ke tahap berpacaran.. Kepada NPR Pennbeaker menjelaskan: 

“Semakin serupa mereka menggunakan kata-kata fungsi tersebut, makin tinggi kemungkinannya mereka akan segera berkencan. Kata-kata yang lebih keren: Kita bisa melihat … kencan sepasang muda-mudi … (dan) makin serupa (mereka) … menggunakan gaya bahasa yang cocok, makin cenderung (mereka) mereka tetap berpacaran hingga tiga bulan ke depan.” 

Hal ini, tampaknya juga bukan soal menarik minat orang yang diincar. Sebaliknya, saat seseorang menemukan orang yang menarik hatinya, serta merta akan mengubah gaya bahasa mereka. Pasangan yang kuat mungkin lebih banyak menggunakan kata “Aku”, sementara pasangan yang biasa-biasa saja lebih sering mengatakan “kamu”. 

Terlepas dari kata yang mereka gunakan – meskipun Anda melihat bahwa kata ganti kemungkinan punya dampak yang lebih besar – kesamaan dalam gaya pengucapan kita tampaknya bisa meramalkan seberapa baik hubungan kita akan berjalan. 

Sayangnya, jika Anda mengira akan mampu mengubah cara Anda berbicara untuk kencan berikutnya, Anda terlambat. Riset Pennbeaker melihat bahwa perubahan akan sangat kentara, sehingga Anda tidak dapat menyesuaikan gaya bahasa Anda dalam sebuah kencan tanpa terlebih dahulu mengubah watak Anda. Maaf. 

Sumber : Gizmodo
Read More

Pria Kantoran Penggoda Melakukannya Untuk Usir Kejemuan, Bukan Seks?

Pria Kantoran Penggoda Melakukannya Untuk Usir Kejemuan, Bukan Seks?
Dua studi yang dilakukan psikolog dari University of Surrey menunjukkan bahwa pria yang menggoda rekan kerja wanitanya di kantor tidak bermaksud untuk tujuan romantis, tapi sekedar mengusir kejemuan.

Studi yang dipresentasikan pada konferensi tahunan British Psychological Society menghimpun jawaban dari 200 pria dan wanita melalui pertanyaan yang berbeda, mulai dari “Apakah Anda menggoda saat kerja?” hingga tingkat kepuasan kerja.

Hasilnya? “Karyawan yang kurang puas dengan pekerjaannya kemungkinan lebih cenderung merasa bosan dan, agar lebih enjoy bekerja, mereka menggoda rekan kerjanya,” kata para peneliti.

Mereka menambahkan, tingkat intelegensi emosional para pria tersebut juga rendah.

Weleh-weleh.

Dari temuan itu, ada 2 hal yang perlu direnungkan: Yang wanita jangan GR dulu kalau digoda, dan yang pria pikir-pikir dulu sebelum menggoda daripada ketahuan kalau tingkat intelegensi emosionalnya rendah.

Sumber : Gizmodo
Read More

Etos Kerja Tergantung pada Tingkat Dopamine di Otak

Etos Kerja Tergantung pada Tingkat Dopamine di Otak
Ada di antara kita yang bekerja keras, ada juga yang malas-malasan – dan sudah sangat lama alasan di balik etos kerja yang berlainan tersebut menjadi sebuah misteri. Tapi penelitian terbaru mengungkapkan bahwa tingkat dopamine di tiga area berbeda pada otak berpengaruh pada hasrat kita untuk bekerja.

Studi, yang dipublikasikan di Journal of Neuroscience, menggunakan Positron Emission Tomography (PET) untuk mencitrakan otak dari sejumlah partisipan berbagai kelompok perilaku, dari yang rajin hingga pemalas. Para partisipan tersebut diminta untuk memilih rangkaian tugas, ada yang mudah, ada yang sulit – dengan iming-iming imbalan uang yang bervariasi.

Para peneliti menemukan bahwa orang yang berkemauan kerja keras untuk mendapatkan imbalan besar melepaskan dopamine – pemancar syaraf yang menimbulkan perasaan nyaman - lebih banyak di area otak yang diketahui memainkan peran penting dalam reward dan motivasi: striatum dan ventromedial prefrontal cortex. Orang yang tidak begitu antusias bekerja, bagaimanapun juga, mempunyai dopamine dengan tingkat yang lebih tinggi di bagian otak yang berperan dalam emosi dan persepsi resiko, yang disebut dengan anterior insula. David Zald, salah seorang peneliti, mengatakan kepada EurekAlert:

“Studi terdahulu yang dilakukan pada tikus menunjukkan bahwa dopamine adalah penentu dari motivasi memperoleh reward, tapi studi ini memberikan informasi tentang bagaimana dopamine menjelaskan perbedaan individual dalam perilaku mencari reward pada manusia.”

Fakta bahwa dopamine mempunyai efek berlawanan dalam bagian yang berbeda pada otak adalah temuan yang menarik sekaligus membingungkan. Sejumlah pengobatan psychotropic, misalnya yang digunakan untuk mengatasi gangguan ‘kurang perhatian’, berdampak penuh pada tingkat dopamine. Temuan ini menunjukkan bahwa perubahan distribusi dopamine bisa lebih penting ketimbang mengatur jumlah total saja – tapi dampak tersebut mustahil diperoleh.

Jika para peneliti bisa mengembangkan riset mereka untuk mengetahui bagaimana distribusi dopamine berdampak pada mood, temuan tersebut akan berpengaruh besar pada penyembuhan gangguan kurang perhatian, depresi dan schizophrenia di masa mendatang.

Sumber : Gizmodo
Read More

Pria Anggap Wanita Berbusana Merah Cenderung 'Gampangan'

Pria Anggap Wanita Berbusana Merah Cenderung 'Gampangan'
Semula merah dianggap sebagai warna cinta, namun belakangan para peneliti menemukan alasan kenapa pria suka wanita berbusana merah. Sederhana saja alasannya, para pria menganggap wanita berbusana merah cenderung mau diajak tidur saat kencan pertama.

Para psikolog yang melakukan penelitian atas 120 mahasiswa pria berusia antara 18-21 tahun menemukan, kebanyakan dari mereka beranggapan bahwa wanita yang memilih busana berwarna merah mempunyai “keinginan yang kuat untuk seks’ dan cenderung mau langsung diajak ke tempat tidur, dibandingkan wanita yang mengenakan busana berwarna netral, seperti hijau, biru, atau putih.

Dan busana merah tersebut tak harus baju atas atau rok mini, demikian temuan para peneliti.

Para sukarelawan ditanyai, apakah mereka menilai wanita tersebut melulu dari hasrat seksual si wanita berdasarkan warna atau t-shirt biasa.

Temuan, yang dipublikasikan dalam Journal of Social Psychology terbaru, menegaskan kuatnya pengaruh warna yang membuat para pria mempersepsikan lawan jenis mereka.

Studi sebelumnya menunjukkan bahwa pria akan mengajukan pertanyaan mesra dan duduk lebih dekat ke si wanita jika wanita tersebut mengenakan busana merah.

Penelitian lain menyatakan, wanita berbaju merah yang ingin menumpang kendaraan lewat (hitch hiker) akan lebih diterima oleh pengemudi pria.

Untuk memastikan apakah warna merah berpengaruh terhadap persepsi pria atas wanita, para psikolog di University of South Brittany di Perancis mengumpulkan 120 mahasiswa pria dan membagi mereka ke dalam 4 kelompok.

Masing-masing sukarelawan diberi 30 detik untuk memandangi gambar seorang wanita berusia 20 tahun mengenakan baju yang berubah-ubah dari merah, biru, hijau, lalu putih.

Kemudian para mahasiswa harus melengkapi kueisoner yang meminta mereka untuk menilai wanita mana yang menarik menurut mereka, dari skala 1 sampai 9.

Mereka juga harus menilai wanita mana yang mereka anggap langsung mau diboyong ke ranjang saat kencan pertama.

Ternyata wanita yang dinilai paling menarik adalah saat ia mengenakan baju merah, diikuti kemudian dengan putih, biru, dan terakhir hijau.

Si wanita berbaju merah juga dianggap cenderung ‘murahan’ saat ia berbaju merah, diikuti dengan biru, hijau, dan terakhir putih.

Dalam laporan atas temuan mereka, para peneliti mengatakan bahwa hasilnya mendukung hipotesis mereka, di mana pria memandang warna merah sebagai ajakan untuk 'ho ha hi he'.

“Studi menunjukkan bahwa warna merah terkait dengan gairah dan keromantisan, sebagaimana kesuburan wanita”.

“Tapi evolusi biologis juga dapat menjelaskan pentingnya warna merah. Selama masa kesuburan, perineum dari baboon, monyet dan simpanse betina berubah menjadi merah, kemungkinan untuk menarik minat jantannya”.

“Untuk pertama kalinya, eksperimen kami menunjukkan bahwa busana mempunyai kemampuan untuk membuat pria mempersepsikan wanita yang mengenakan t-shirt merah lebih “mengundang’ dibandingkan dengan jika wanita mengenakan t-shirt biru, putih, atau hijau”.

Psikolog Dr. Glenn Wilson, profesor psikologi tamu pada Gresham College di London, mengatakan bahwa penelitiannya juga menunjukkan kalau pria berbaju merah lebih menarik bagi wanita, karena terlihat seperti orang kaya.

“Tapi wanita berbusana merah menarik bagi wanita karena kaitan nafsu. Dampak tersebut terjadi tanpa disadari dan mungkin diperoleh dari kenyataan, bahwa merah adalah warna siginifikan di alam, menandakan bahaya dan menimbullan rangsangan”.

Sumber : Daily Mail
Read More

Kecanduan Kekuasaan Indentik dengan Kecanduan Kokain

Kecanduan Kekuasaan Indentik dengan Kecanduan Kokain
Lebih dari seratus sejarawan Baron John Acton menyatakan “Kekuasaan cenderung membuat orang korup, dan kekuasaan mutlak membuat orang mutlak korupsi”. Kini, para ilmuwan membuktikan bahwa secara biologis pernyataan itu benar.

Mereka menemukan bahwa ‘merasa berkuasa’ mempunyai kesamaan pengaruh sebagaimana kokain pada otak dengan meningkatnya tingkat testosteron dan produk turunannya, androstanediol, baik pada pria maupun wanita.

Hal ini pada gilirannya akan mendongkrak tingkat dopamine, ‘system reward’ otak yang disebut dengan nucleus acumbens, yang bisa sangat adiktif.

Kokain bekerja dengan cara yang sama, di mana dapat menimbulkan berbagai berpengaruh dari meningkatnya kewaspadaan, rasa percaya diri, energi, merasa nyaman dan euforia, hingga kebingungan, paranoia dan gelisah.

Kekuasaan nyaris berdampak identik dengan kokain dan kekuasaan yang berlebihan dan menghasilkan sejumlah besar dopamine yang lebih berdampak negatif, seperti arogan dan pemarah.

Pernyataan Dr Ian Robertson tersebut bisa dikembangkan lebih lanjut dalam menjelaskan perilaku aneh dan impulsif dari pejabat, konglomerat dan selebriti.

Di Daily Telegraph Robertson menulis: “Kera baboon biasa dalam hirarki dominasi mempunyai tingkat dopamine yang lebih rendah di wilayah otak kunci, tapi begitu dipromosikan ke posisi yang lebih tinggi, dopaminenya pun akan turut meningkat”.

“Hal ini membuat mereka lebih agresif dan aktif hasrat seksualnya. Pada manusia, perubahan tersebut juga terjadi saat mereka diberi kekuasaan”.

“Sebaliknya, penurunan posisi dalam hirarki akan menurunkan tingkat dopamine, meningkatkan stress dan menghambat fungsi kognitif”.

Ia menambahkan, bahwa kekuasaan juga membuat orang lebih pandai, karena dopamine meningkatkan fungsi lobus otak depan.

Kepatuhan dan dominansi juga memberikan efek yang sama melalui jaringan syaraf reward otak sebagaimana kekuasaan dan kokain.

Sumber : Daily Mail
Read More

‘Sisi Gelap’ Facebook: Studi Temukan Kaitan pada Narsisme Agresif secara Sosial

‘Sisi Gelap’ Facebook: Studi Temukan Kaitan pada Narsisme Agresif secara Sosial
Telaah psikologi menemukan bahwa Facebook dan media sosial lainnya menawarkan sarana untuk orang-orang yang obsesif dengan citra diri dan pertemanan yang dangkal.

Para peneliti telah menetapkan sebuah kaitan langsung antara jumlah teman yang dimiliki di Facebook dengan derajat yang menunjukkan sifat narsis ‘yang secara sosial mengganggu’, sebagai konfirmasi atas kesimpulan dari sejumlah orang yang skeptis pada media sosial.

Orang-orang yang mendapat nilai tinggi pada kuesioner Narcissistic Personality Inventory punya lebih banyak teman di Facebook, men-tag dirinya sendiri lebih sering dan meng-update newsfeed mereka lebih rutin.

Penelitian yang dilakukan ditengah maraknya bukti bahwa kaum muda makin meningkat sifat narsisnya, dan terobsesi dengan citra diri dan dangkalnya pertemanan.

Studi terbaru yang dipublikasikan di jurnal Personality and Individual Differences juga menemukan bahwa narsisme merespon lebih agresif pada komentar-komentar yang tak mengenakkan tentang mereka di dinding situs jejaring sosial dan mengubah profil mereka lebih sering.

Sejumlah penelitian sebelumnya mengaitkan narsisme dengan penggunaan Facebook, tapi yang ini adalah semacam bukti awal dari hubungan langsung antara teman-teman Facebook dengan elemen paling ‘meracuni’ dari kelainan kepribadian narsis.

Para peneliti di Western Illinois University mempelajari perilaku Facebook dari 294 orang berusia antara 18 sampai 65 tahun, dan diukur dua elemen “gangguan sosial” dari narsisme, yaitu grandiose exhibitionism (GE) dan entitlement/exploitativeness (EE).

GE mencakup “daya serap diri, kesombongan, keunggulan, dan kecenderungan pamer” dan orang-orang yang memperoleh nilai tinggi pada aspek narsisme ini butuh menjadi pusat perhatian secara konstan. Mereka kerap mengatakan hal-hal yang mengejutkan dan secara tak pantas menyingkap dirinya sendiri karena mereka tak tahan untuk diabaikan atau menyia-nyiakan peluang untuk memamerkan diri.

Aspek EE meliputi “perasaan pantas dihargai serta hasrat memanipulasi dan mengungguli yang lain”.

Riset menemukan bahwa makin tinggi nilai aspek GE-nya, makin besar jumlah teman di Facebook, hingga mencapai lebih dari 800.

Mereka yang mendapat nilai tinggi pada EE dan GE lebih cenderung menerima permintaan pertemanan dari orang asing dan mencari dukungan sosial, tapi kurang memberikan dukungan.

Carol Caig, peneliti sosial dan chief executive pada Centre for Confidence and Well-being, mengatakan bahwa kaum muda di Inggris makin meningkat sifat narsisnya dan Facebook dituding sebagai biang penyedia sarana atas kelainan tersebut.

“Cara mendidik anak makin difokuskan pada pentingnya harga diri – pada bagaimana Anda memandang mata orang lain. Metode pengajaran ‘semua tentang aku’ ini diimpor dari AS.”

“Facebook memfasilitasi orang-orang yang ingin memamerkan dirinya dengan cara merubah foto profil dan menunjukkan ratusan teman yang dimilikinya, bahkan ada yang lebih dari 1.000.”

Dr Viv Vignoles, dosen senior pada psikologi sosial di Sussex University, menyatakan ada “bukti yang jelas” dari studi di Amerika di mana para mahasiswa meningkat sifat narsistiknya.

Tapi ia menambahkan: “Apakah itu berlaku juga bagi non mahasiswa atau kaum muda di negara lain, seperti Inggris misalnya, masih menyisakan pertanyaan, sejauh yang saya ketahui.”

“Tanpa memahami penyebab yang mendasari perubahan historis pada mahasiswa AS, kita tidak akan tahu apakah penyebab tersebut merupakan faktor yang secara relatif spesifik untuk budaya Amerika, seperti fokus politis pada peningkatan harga diri pada akhir 80-an dan awal 90-an atau ada faktor yang lebih umum, misalnya teknologi baru seperti ponsel dan Facebook.”

Vignoles mengatakan, korelasi alamiah dari studi terbaru berarti sulit untuk memastikan apakah perbedaan individual dalam narsisme membuat pola yang berbeda pada perilaku Facebook, apakah pola perilaku Facebook menjadikan perbedaan individual dalam narsisme, atau secuil dari keduanya.

Christopher Carpenter yang melakukan studi mengatakan: “Secara umum, sisi gelap Facebook butuh penelitian lebih lanjut dalam rangka memahami manfaat sosial Facebook secara lebih baik dan aspek-aspek yang merusak demi meningkatkan mantan pengguna dan membatasi calon pengguna.

“Jika Facebook digunakan oleh orang-orang yang ingin memperbaiki ego mereka yang rusak dan mencari dukungan sosial, sangat penting untuk menggali potensi komunikasi negatif yang mungkin dapat diperoleh di Facebook dan orang-orang baik yang ingin berkenalan dengan mereka. Idealnya, orang akan lebih suka menggunakan Facebook untuk tujuan baik ketimbang merusak.”

Sumber : the guardian

Read More

Suka Melamun Pertanda Cerdas?

Suka Melamun Pertanda Cerdas?
Orang yang pikirannya suka kelayapan ke mana-mana kemungkinan mempunyai otak yang tajam.

Sebuah studi menunjukkan bahwa mereka yang terlihat seperti orang bengong ternyata memorinya lebih tokcer dengan cara memberikan 2 tugas pada waktu bersamaan.

Partisipan harus menekan tombol untuk merespon tulisan tertentu yang muncul di layar, atau menghembusnya dengan nafas mereka. Secara periodik para peneliti menanyakan apakah pikiran mereka ngeluyur tak karuan.

Pada akhir riset, mereka mengukur kapasitas memori aktif para partisipan dan memberi mereka skor atas kemampuan mengingat-ingat rangkaian tulisan yang diselingi dengan soal matematika sederhana.

Daniel Levinson, psikolog pada University of Wisconsin-Madison, mengatakan mereka yang mempunyai kapasitas memori aktif ternyata ‘pikirannya lebih ngelantur selama melakukan tugas sederhana itu’ dan hal itu tak mengganggu kinerja mereka.

Hasil risetnya, dipublikasikan secara online di Psychological Science, adalah yang pertama kali menunjukkan kaitan antara pikiran ngelantur dan kecerdasan.

Diduga mereka menggunakan ruang mental ekstra, misalnya, saat menjumlahkan dua angka tanpa bisa menulisnya.

Kapasitas tersebut dikaitkan dengan ukuran intelegensi secara umum, seperti membaca pemahaman dan skor IQ.

Studi terkini menggarisbawahi pentingnya memori aktif dalam ‘mengijinkan’ otak fokus pada masalah yang paling berat.

Sumber : dailymail.co.uk

Read More

Cara Mudah Kendalikan Amarah

Cara Mudah Kendalikan Amarah
Orang-orang yang merasa mudah tersulut amarahnya hanya karena masalah sepele mungkin perlu mencoba cara ini.

Bagi orang normal, yang beraktifitas dengan tangan kanan, berlatih melakukan segala sesuatu, misalnya menggerakkan mouse, mengaduk kopi, atau membuka pintu, dengan menggunakan tangan kiri, sementara mereka yang kidal berlatih dengan tangan kanannya.
Melatih diri sendiri dengan tangan yang ‘salah’ tampaknya bermanfaat untuk mengendalikan diri agar lebih ramah.

Berlatih hanya dalam waktu 2 minggu cenderung akan mengurangi emosi yang meledak-ledak.

Dr Thomas Denson, dari University of New South Wales, mengatakan bahwa berlatih mengendalikan diri tak berbeda dengan menjadi mahir dalam bermain golf atau piano.

Dalam beberapa penelitian ia menunjukkan orang-orang yang mencoba menggunakan tangan tak dominan selama 2 minggu membuat sifat agresi mereka menjadi lebih baik. Jadi bagi mereka yang biasa menggunakan tangan kanan diminta mengaktifkan tangan kiri ‘untuk melakukan segala sesuatu yang aman dilakukan,’ katanya.

Dr Denson, yang temuannya dipublikasikan di jurnal Current Directions in Psychological Science, menyatakan hanya pengendalian diri sajalah yang menjaga kita dari kemarahan atau berperilaku kasar yang berakibat rusaknya hubungan baik dengan orang lain.

Dalam sebuah eksperimen, para partisipan dibaurkan dengan mahasiswa lain dan diberi semacam gangguan suara yang bervariasi frekuensinya, yang dikenal dengan nama static.

Dr Denson dan rekan-rekannya mengatakan, para pakar kriminologi dan sosiologi meyakini bahwa para pelaku kejahatan dengan kekerasan bertindak karena ada kesempatan dan rendahnya pengendalian diri.

Selama 10 tahun terakhir sejumlah psikolog turut bergabung dalam riset ini, menggunakan cara baru memanipulasi pengendalian diri dalam berbagai eksperimen, dan menemukan adanya kaitan yang erat antara pengendalian diri dengan perilaku agresif.

Penelitian juga mendapati bahwa setelah orang terpaksa harus mengendalikan diri sesaat, mereka menjadi lebih agresif.

Perilaku agresif tersebut bukan karena mereka tak mau mengendalikan diri, tetapi karena tak tahu caranya. Faktanya, saat otak orang yang agresif dipindai dan dipantau aktifitasnya dalam situasi yang tak menyenangkan, organ yang terkait dengan pengendalian diri ternyata lebih aktif dibandingkan dengan orang yang tidak begitu agresif.

Jadi, ada kemungkinan lebih mudah mengajari orang-orang yang gampang naik darah atau bermasalah dengan kekerasan untuk mengendalikan diri mereka.

“Jika Anda berlatih dalam jangka panjang, kemampuan pengendalian diri Anda akan makin kuat. Tapi sebagaimana layaknya latihan yang lain, yang inipun pada awalnya akan terasa sulit”, imbuh Dr Denson.

Sumber : dailymail.co.uk

Read More

Bersikap Ramah Tingkatkan Kekuatan Otak

Bersikap Ramah Tingkatkan Kekuatan Otak
Berdiskusi dengan orang lain dan saling menghargai diyakini dapat membantu Anda mengatasi tantangan hidup, tapi tidak dengan percakapan dengan nada tinggi yang tidak mau mengalah, demikian hasil studi terbaru.

"Penelitian ini menunjukkan bahwa hanya berbicara dengan orang lain, seperti yang Anda lakukan ketika Anda mendapat teman baru, dapat memberikan manfaat terhadap kejiwaan," kata ketua tim peneliti, Oscar Ybarra, seorang psikolog dan peneliti di Institute for Social Research di University of Michigan.

Dalam studi yang melibatkan 192 mahasiswa itu, para peneliti mengamati efek singkat dari kontak sosial terhadap jenis kognisi yang disebut fungsi eksekutif, yang meliputi memori kerja, pemantauan diri, dan kemampuan untuk menekan gangguan eksternal dan internal. Proses-proses mental ini sangat penting dalam menangani masalah sehari-hari.

Melakukan percakapan singkat selama 10 menit di mana seseorang ingin berkenalan dengan orang lain, ternyata dapat membantu meningkatkan kinerja peserta studi pada berbagai tugas kognitif. Tetapi ketika nada bicara mulai berubah menjadi tinggi dan saling tak mau mengalah, para peserta studi tidak menunjukkan perbaikan pada tugas-tugas kognitif.

"Kami percaya bahwa peningkatan kinerja itu terjadi karena beberapa interaksi sosial mendorong orang untuk mencoba membaca pikiran orang lain dan mengambil perspektif mereka tentang sesuatu," kata Ybarra.

"Dan kami juga menemukan bahwa ketika kita menyusun interaksi yang kompetitif sekalipun yang memiliki unsur untuk mengambil sudut pandang orang lain, atau berusaha menempatkan diri dalam pikiran orang lain, hasilnya adalah adanya dorongan dalam fungsi eksekutif."

Temuan ini menunjukkan bahwa melakukan pembicaraan yang ramah dengan rekan atau orang lain sebelum melakukan langkah besar atau presentasi, ternyata dapat memberikan manfaat.

Studi ini dipublikasikan di jurnal Social Psychological and Personality Science. (go4/ICH)

Sumber : metrotvnews.com

Read More

Ternyata Kebohongan Bisa Langsung Terdeteksi

Ternyata Kebohongan Bisa Langsung Terdeteksi
Satu penilaian sekilas dapat menentukan berlanjut tidaknya sebuah hubungan pertemanan:

Menurut studi di Universitas California, Berkeley, hanya butuh 20 detik bagi seseorang untuk memutuskan apakah orang yang baru dikenalnya layak dipercaya atau tidak.

Sejumlah peneliti merekrut 24 pasangan sebagai partisipan dan meminta mereka untuk mengungkapkan kepada pasangan masing-masing kapan mereka merasakan penderitaan.
Pada saat yang sama, beberapa kamera merekam reaksi atas partisipan yang bertindak sebagai pendengar. Satu kelompok terpisah diminta untuk mereview rekaman tersebut dan dalam waktu 20 detik mereka dapat mengidentifikasi adanya kepura-puraan pada reaksi partisipan pendengar berupa perhatian yang tak tulus.

Berdasarkan hasil penelitian terhadap sampel gen para partisipan diketahui, bahwa 60% partisipan yang dinilai dapat dipercaya ternyata tidak memiliki gen reseptor, GG Genotype, yang dapat mengendalikan perilaku kasih sayang dan empati.

“Reseptor membantu mengatur tingkat oxytosin tubuh, di mana dari studi sebelumnya, dikaitkan dengan rasa percaya, empati dan kemurahan hati”, kata Alexsandr Kogan, rekanan ahli Universitas Toronto sekaligus ketua pada penelitian tersebut.

“Dari partisipan yang layak dipercaya, 90% di antaranya membawa gen tersebut. Tapi jika gen itu dikaitkan dengan persepsi ketulusan, bukan berarti mereka tidak simpati andai tak memiliki gen tersebut”, lanjutnya.

Peneliti bisa mengabaikan ketulusan dari ketidakjujuran karena, kata Kogan,” Ada perilaku tertentu yang ditemukan sebagai sinyal kepercayaan dan dukungan”.

“Jadi, saat Anda sedang berhadapan dengan salesman, teman baru atau kencan buta, Anda akan dapat mengetahui adanya kepura-puraan/ kebohongan jika Anda tahu apa yang Anda cari”, ujar Marc Salem, seorang pakar psikologi perilaku dan perilaku nonverbal.

Berikut ini tanda-tanda kebohongan menurut Marc Salem yang bisa dikenali :

Perilaku yang Tak Konsisten

Jika dalam kondisi normal seseorang bersifat pendiam lalu tiba-tiba berubah jadi atraktif atau sebaliknya, ini berarti Anda harus berhati-hati padanya. Demikian pula jika cara bicara seseorang yang biasanya lancar dan cepat lalu berubah jadi seperti diatur dan terbata-bata, mulailah untuk mencurigai kebenaran ucapannya.

Menatap Terus-menerus

Adalah hal biasa saat seseorang sedang berpikir atau merenung, ia mengalihkan tatapannya pada Anda lalu melihat sekelilingnya. Tapi jika tatapannya terlalu konstan, mereka mungkin tidak sedang mendengarkan Anda atau sedang mencoba untuk mendapatkan kepercayaan Anda. Boleh jadi itu adalahn tanda-tanda ketidaktulusan.

Bicara Saja Tak Cukup

Batuk, sering berdehem atau menutup mulut bisa diindikasikan bahwa seseorang tengah mencoba menyembunyikan sesuatu. Bisa juga dilihat dari bahu yang diturunkan, posisi tubuh membungkuk. Tanda-tanda ini berarti ia tak ingin terbuka sepenuhnya.

Senyum Cepat

Senyum yang tulus akan merubah keseluruhan wajah seseorang. Matanya berbinar, pipi dan alisnya naik seiring dengan gerakan mulutnya. Selain itu senyum tulus butuh beberapa detik untuk memudar. Senyum yang palsu/ pura-pura hanya ditunjukkan sekejap saja.

Sumber : foxnews


Read More

Selingkuh… Uuuh.. Uuuh…

Selingkuh… Uuuh.. Uuuh…
By Shinta Miranda

Lika-Liku Selingkuh

Banyak orang setuju kalau kesetiaan adalah kunci dari kesuksesan sebuah hubungan. Tapi nyatanya banyak yang diam-diam berselingkuh. Seorang psikolog, Paula Hall mengungkapkan mengapa orang memiliki affair dan memberi tips agar hubungan bisa bertahan menghadapinya.

Kenapa Ada Perselingkuhan?

Kita bisa mencari banyak alasan untuk menjawab pertanyaan di atas. Tetapi biasanya selingkuh adalah tanda adanya keinginan untuk perubahan. Ada sesuatu dalam diri pasangan atau dalam hubungan yang sedang dijalani, tidak sesuai dengan harapan. Dan perselingkuhan memicu perubahan tersebut. Perselingkuhan tidak melulu soal seks. Keintiman yang terjadi antara dua orang dan melanggar kepercayaan pasangannya bisa merupakan sebuah affair.

Tipe-tipe perselingkuhan

Meski banyak alasan mengapa orang berselingkuh, kita bisa menggolongkan affair menjadi beberapa kategori :

The boat-rocking affair. Terjadi ketika seseorang merasa tidak puas dengan hubungannya. Perselingkuhan tanpa disadari menjadi cara untuk mengalihkan perhatian dari masalah dan membuatnya muncul ke permukaan. Affair jenis ini selalu timbul tenggelam.

The exit affair. Terjadi ketika perselingkuhan dijadikan cara untuk lepas dari sebuah hubungan. Bukannya menghadapi masalah dengan pasangannya, ia malah memilih lari dalam perselingkuhan.

The thrill affair. Sebuah hubungan yang terlarang bisa menimbulkan sensasi tersendiri, rasa deg-degan karena takut ketahuan memompa adrenalin dalam tubuh, sehingga hubungan seks yang dilakukan dengan seseorang yang baru terasa begitu menggairahkan. Perselingkuhan pun menjadi terasa romantis dan menarik. Selingkuh itu indah, begitu prinsip mereka.

The three’s company affair. Sebuah affair yang berlangsung tahunan; bisa disebut juga affair berturut-turut. Ada sebagian orang yang merasa tidak bisa berkomitmen dengan satu orang, orang-orang dalam golongan ini merasa tercekik dalam hubungan monogami. Kehadiran orang ketiga bisa menjadi penyaluran dalam masalah emosi tadi.

Ketika Affair Terbongkar

Saat rahasia akhirnya terkuak, baik berangsur-angsur atau tiba-tiba, shock adalah perasaan yang pertama akan Anda alami. Ketika shock telah lewat, perasaan yang tertinggal adalah marah, sedih, bingung dan mungkin merasa dipermalukan, terutama jika Anda yang melakukan affair.

Kebanyakan orang akan terus bertanya-tanya mengapa semua ini terjadi dan berpikir adakah kemungkinan hubungan mereka bisa diselamatkan.

Kepercayaan adalah resep sebuah hubungan yang sehat dan sering kita abaikan. Kalau Anda adalah pihak yang berselingkuh, Anda harus bekerja dengan keras untuk meyakinkan pasangan bahwa ia adalah cinta sejati Anda dan Anda telah belajar banyak dari kesalahan yang dibuat.

Bagaimana kalau pasangan kita yang berselingkuh? Anda mungkin akan terus mempertanyakan diri sendiri untuk waktu yang lama. Tetapi ketika masa itu telah lewat, hubungan yang dimiliki akan lebih dilandasi rasa percaya dan rasa aman.

Butuh waktu sebentar untuk menghancurkan kepercayaan, tetapi butuh waktu yang sangat lama untuk membangunnya. Pada mulanya mungkin Anda akan merasa bahwa hubungan tidak akan kembali normal, tetapi dengan kesabaran dan niat yang kuat, semua akan bisa bertahan. Jika dirasa perlu, Anda dan pasangan bisa mendatangi lembaga konseling perkawinan untuk meminta saran. Perselingkuhan adalah titik balik perubahan sebuah hubungan, tetapi tidak selalu tanda akhir dari hubungan.

5 April 2011
———————————————
(Sumber : kompas.com dan internet, Foto google.com melalui hariharisetelahkemarin.wordpress.com)


Shinta Miranda. Penulis, penyair, pekerja seni, karya-karyanya banyak tersebar di berbagai media, termasuk media jejaring sosial. Tinggal di Jakarta.
Read More

Mengapa Orang Selingkuh?

Mengapa Orang Selingkuh?
Selingkuh adalah suatu tindakan yang dilakukan di luar rel atau batas-batas yang telah disepakati. Misalnya, dalam rumah tangga. Setelah melakukan akad nikah (bagi umat Islam) suami/ istri wajib menjaga keutuhan rumah tangganya. Segala tindakan yang dilakukan harus demi untuk kesejahteraan dan ketentraman keluarga semata.

Pada hakekatnya selingkuh dilakukan karena ia merasa tidak lagi menemui suasana yang pernah ia rasakan – atau suatu suasana yang ia harapkan tak kunjung terwujud.

Ketika suami pulang kerja, ternyata yang menyambut adalah seorang bekas pacarnya yang hanya pakai daster butut, wajah kuyu, apalagi tanpa ada senyuman. Ini awal dari sebuah perselingkuhan.

Atau saat suami cerita tentang suatu masalah di lingkungan kerja, istri mendengar dengan malas, atau sambil menonton televisi, ini juga peluang untuk menuju perselingkuhan.

Setelah berjalan bertahun-tahun, ternyata kesejahteraan rumah tangga jauh dari harapan seorang istri, ini juga membuka peluang seorang istri untuk berselingkuh.

Atau saat di ranjang, suami tidak bisa memuaskan istrinya. Atau sebaliknya, saat melayani suami, istri hanya diam saja bak batang pisang. Ini merupakan peluang yang bagus untuk sebuah perselingkuhan.

Dan masih panjang daftar penyebab dari sebuah perselingkuhan, kalau mau disebutkan di sini. Namun, dari hal-hal tersebut di atas, perselingkuhan (insya Allah) tidak bakal terjadi manakala suami/ istri mempunyai iman yang kuat, bahwa yang namanya perselingkuhan itu ganjarannya adalah neraka jahanam.

Namun, seberapa banyak orang yang masih ingat itu?

Ada yang bilang, ah mumpung masih muda, masih ada waktu untuk tobat di hari tua. Tapi siapa tahu, kapan kita berhenti bernapas?

Maka dari itu, kepada para penyelingkuh semuanya. Ingat sebelum terlambat. Tobat sebelum ‘kiamat kecil’ mendekat.

Read More

Ciri-ciri Istri Selingkuh

Ciri-ciri Istri Selingkuh
Anda bingung akan perubahan perilaku istri yang mendadak dan Anda seorang suami yang curiga istrinya selingkuh, coba deh baca ciri-ciri berikut, apakah ada pada diri istri Anda :
  • Anda patut curiga jika tiba-tiba istri Anda yang biasanya minta diantar kemana-mana kini ingin jalan sendiri saja, dan tentu saja dengan dandanan yang lebih seksi dari biasanya.
  • Anda harus mewaspadai jika istri anda tiba-tiba bersikap manis kepada Anda dan tiba-tiba tidak marah lagi ketika anda melakukan kebiasaan buruk Anda, ini bisa jadi dilakukan untuk menutupi rasa bersalahnya.
  • Mulai menyembunyikan sesuatu, seperti tiba-tiba istri Anda menyembunyikan tasnya atau juga telepon genggamnya selalu berada dalam genggamannya seolah-olah tidak mau Anda memeriksanya. Atau menerima telepon secara diam-diam/ sembunyi-sembunyi.
Nah itu ciri-ciri yang patut Anda curigai. tapi sebaiknya sebelum Anda menuduh selingkuh sebaiknya Anda lakukan penelitian terlebih dahulu, dan yang terpenting adalah komunikasi, sehingga Anda mengetahui penyebab istri Anda selingkuh.

Dengan mengetahui penyebabnya diharapkan Anda dapat mengatasinya berdua, sehingga hubungan Anda akan semakin mesra.

Sumber : senibercinta.com

Read More

Comments