Topeng

Semua orang pasti tahu siapa itu Batman, Spider-man, Gundala, Zorro dan lain-lain. Ya, mereka adalah karakter komik yang populer tidak saja di kalangan anak-anak, tetapi juga dewasa. Dengan kostum nganeh-anehi, ditambah dengan topeng keren abis mereka malang melintang tak kenal lelah membasmi kejahatan. Tapi tak banyak yang tahu mengapa wajah mereka yang rata-rata digambarkan tampan itu justru ditutup topeng. 

Waktu anak saya tanya kenapa Batman memakai topeng, saya jawab sekenanya ”Biar keren, sayang”. Tentu tidak sesederhana itu. Satu alasan yang umum adalah supaya wajah asli mereka tidak dikenali. Coba bayangkan jika Sampeyan mempunyai kadigdayan seperti Superman, lalu, dengan penampilan seperti sehari-hari, Sampeyan hajar setiap preman dan penjahat yang getol bikin rusuh. Apa akibatnya? Preman dan penjahat itu pasti akan dendam kepada Sampeyan. Kalau premannya cerdas, mereka tidak akan secara jantan menantang Sampeyan untuk tarung lagi, karena pasti akan KO lagi. Mereka akan cari orang-orang yang terdekat dengan Sampeyan, misalnya anak, istri, pacar, PIL/ WIL, atau sahabat Sampeyan, lalu mereka sandera orang-orang itu. Sebagai orang yang lebih berprikemanusiaan daripada preman-preman itu, Sampeyan pasti akan memilih menyerah kalah daripada orang-orang yang Sampeyan cintai dilukai. Jadi gunanya topeng adalah untuk menjamin keselamatan orang lain.

Dari pandangan orang yang skeptis, jagoan bertopeng itu dianggap sebagai orang yang ”sakit”, berkepribadian ganda, dan tidak berbeda dengan penjahat yang dalam menjalankan aksinya juga menggunakan topeng walau tujuannya bertolak belakang.

Bagaimana dengan di dunia nyata?

Konon, di antara kita banyak juga yang “bertopeng”, hanya saja dalam konteks yang berbeda. Wujudnya pun tidak riil. Aslinya ia ada dalam diri setiap manusia yang setiap saat setiap waktu bisa disamarkan. Ia adalah watak/ sifat kita yang bisa setiap saat kita rubah dengan topeng sikap/ perilaku kita sehari-hari dan dibalut dengan kostum bernama kepura-puraan. Yang aslinya egois, mau menangnya sendiri, dalam keseharian bersikap mengalah, royal atau apapun yang baik-baik, yang membuat orang bersimpati. Yang aslinya mudah naik pitam, brangasan, dalam keseharian justru menunjukkan sikap penyabar, santun dan ramah yang membuat orang kepincut. Bila topeng seperti itu dirawat dan dipertahankan, alangkah indahnya hidup kita. Nyatanya, berhubung tak ada satupun yang abadi di dunia ini, maka topeng pun sesekali atau berkali-kali bisa pudar, berganti dengan wajah asli, atau bahkan topeng yang lain, seperti digambarkan dalam bait lagu God Bless: ”Dunia ini panggung sandiwara. Ceritanya mudah berubah. Ada peran wajar, ada peran berpura-pura. Mengapa kita bersandiwara?...” Dst. Dst.

Saat film ”Titanic” yang dibintangi Leonardo Di Caprio diluncurkan, seorang pengamat film memberikan komentar yang bunyinya kira-kira begini, “Tragedi Titanic merupakan analogi dari sebuah dunia kecil yang terdiri dari berbagai macam watak manusia. Jika Sampeyan ingin mengetahui watak asli seseorang, lihatlah saat ia dalam kepanikan...”. Setelah beberapa kali menyaksikan film tersebut di TV, saya baru paham dengan ungkapan sang pengamat. Betapa berbedanya sikap para penumpang kapal malang itu saat kapal dengan tenang melayari samudera dengan saat kapal pelahan-lahan tenggelam akibat menabrak gunung es di tengah malam yang dingin. Keharmonisan dalam kebersamaan berubah seratus delapan puluh derajat menjadi saling sikut, saling dorong dan saling injak demi menyelamatkan diri mereka sendiri. Saat itulah topeng-topeng memudar, melayang ke langit, berlomba dengan arwah-arwah mereka yang terinjak-injak atau tenggelam.

Bagaimanapun, mungkin karena adanya tuntutan jaman, topeng rasanya menjadi suatu kebutuhan demi menjaga hubungan antar sesama manusia. Topeng digunakan untuk meraih simpati orang lain, meski ada kalanya tidak berhasil karena kedoknya sudah terbongkar. Bisa jadi orang lainlah yang terpaksa menggunakan topeng, berpura-pura simpati padahal sudah muak.

Ada satu teori lagi yang mendukung teori Titanic. Kalau ingin melihat sifat asli manusia, lihatlah perilakunya di jalan raya atau pada saat dalam antrian. Pada situasi itu akan terlihat orang-orang yang dengan entengnya nyelonong, memotong jalur atau giliran orang lain. Mungkin yang merasa ”kena” ada yang berkilah ”Lho, saya ’kan lagi terburu-buru. Wajar kalau motang-motong, sleat sleot di jalan. Kalau jalan biasa kapan sampainya??”. Justru itu. Dari jawaban tadi bisa membuktikan teori Titanic, bukan? Terburu-buru menggambarkan kepanikan. Dalam kepanikan itulah sifat aslinya muncul. Lalu bagaimana dengan pengendara yang memang aslinya ”brengsek” di jalan raya? Ya itulah dirinya. Tanpa topeng, barangkali karena di jalanan tidak ada satupun yang dia kenal. Mungkin akan lain kelakuannya kalau ia berada dalam komunitas yang dia kenal dan orang lain mengenalnya. Di situ akan dia kenakan lagi topengnya, bermanis muka seolah tanpa dosa.

Pada sisi lain bisa terjadi sebaliknya. Aslinya jahat, culas, dengki dan segudang sifat buruk lainnya yang dia tunjukkan dengan perilaku yang membuat orang lain geram. Mangkel. Kemrungsung. Tapi pada saat kepepet baru ia kenakan topengnya. Topeng yang paling baik yang pernah ia punya untuk ia gunakan meraih simpati orang lain.

Kesimpulannya, ada dua jenis orang bertopeng di sekeliling kita. Pertama, mereka yang dalam kondisi normal bertopeng untuk menutupi sifat aslinya. Contohnya? Pikirkan sendiri. Kedua, mereka yang tampil apa adanya, dengan segala perilaku buruknya, dan baru memakai topeng dalam kondisi tidak normal. Contohnya? Pikirkan sendiri juga.

Kesimpulannya lagi, tak satupun di antara kita yang tidak pernah tak bertopeng. Sampeyan, saya dan siapapun yang telah paham betul makna pentingnya bersosialisasi perlu topeng. Yang hatinya masih bersih tak perlu. Siapa mereka? Anak-anak kita yang masih kecil dan polos tentunya. Yang belum punya pikiran untuk menjatuhkan orang lain atau meraih simpati demi kepentingan diri sendiri. Atau kepentingan idealisme tertentu yang kadang bikin muak.

Pernahkah Sampeyan memikirkan, apakah ada bedanya hubungan dengan teman semasa sekolah dulu dengan lingkungan pekerjaan saat ini? Ada suatu perbedaan yang sangat mendasar ternyata. Waktu sekolah dulu rasanya ndak ada itu yang namanya sikut-sikutan. Saling menjatuhkan teman. Justru sebaliknya, saling membantu, bukan? Contek-contekan jawaban ulangan adalah salah satu contohnya. Kalaupun ada yang pelit ngasih contekan, pasti tujuannya bukan supaya temannya dapat nilai jelek, tapi mungkin karena takut ketahuan atau supaya dirinya meraih prestasi terbaik di sekolah. Adakah topeng waktu itu? Rasanya kok tidak. Semuanya berjalan murni, apa adanya. Runtang runtung rame-rame ke sana ke mari, bercanda ria bersama, kadang saling memaki, mencela tapi tidak ada yang sakit hati.

Bagaimana caranya supaya tidak terkecoh oleh topeng orang lain? Masing-masing orang pasti punya kiat sendiri-sendiri. Bisa jadi dengan cara menutup diri, sedapat mungkin menghindari interaksi dengan orang lain. Atau sedapat mungkin tidak terlalu bloko suto tentang dirinya dan apapun yang menyangkut dirinya yang bisa dijadikan senjata oleh orang lain untuk menyikutnya.

Apapun itu, yang penting kita tetap menjadi diri kita yang sebaik-baiknya, yang mempunyai simpanan topeng-topeng baik untuk kebaikan bersama dan sedapat mungkin tidak menghakimi orang lain atas perilaku buruknya dengan hanya mengedepankan idealisme yang kita anggap lebih baik daripada yang lain. (mp2)

Related Posts
Previous
« Prev Post

Comments