Kesibukan Membuat Kita Tak Punya Waktu untuk Merasakan Nikmatnya Makan

Orang kehilangan sentuhan terhadap indera perasa sebagai akibat dari serbacepatnya kehidupan modern, demikian pernyataan sejumlah peneliti.

Survei menemukan bahwa 60% dari mereka yang mengikuti polling mengaku tidak pernah atau jarang merasakan apa yang mereka makan. Dalam berbagai pengujian, 79% tidak mampu mengatakan perbedaan antara rasa dasar.

Kondisi itu meningkat menjadi 88% saat mereka perhatian mereka terpecah, dan 93% saat mereka berada dalam tekanan waktu.

Hanya 13% dari mereka yang ditanyai mengatakan menikmati sarapan jauh dari tempat kerja, dan hampir separonya menyebutkan makan di siang hari sebagai ‘sarana menuju akhir’ untuk mengisi ulang bahan bakar tubuh.

Psikolog David Lewis dari lembaga konsultasi Mindlab mengatakan “Melimpahnya cita rasa yang luar biasa dan cakupan pengalaman terhadap makanan tidak sebanyak di Inggris, dan tidak lebih beragam, tapi temuan kami menunjukkan bahwa konsimen menjadi malas saat tiba waktunya untuk merasakan dan menghargai makanan mereka.”

“Saya meragukan kalau ada hamparan makanan yang melimpah dan kombinasi rasa di pembuangan kita, tapi kita tidak menikmati makanan yang kita makan. Hal ini tidak hanya memalukan, tapi juga kemubaziran rasa.”

“Perilaku sarapan kita secara khusus menunjukkan bahwa pekerja mengkonsumsi makanan sebagai cara untuk mengisi ulang bahan bakar tubur dan nyaris tidak pernah, atau jarang, merasakan yang mereka makan.”

“Sejumlah 1.000 orang mengambil bagian dalam survei tersebut, dengan kelompok kecil yang terdiri dari 30 sukarelawan ditugasi untuk mengikuti uji rasa.

Dalam pengujian itu para partisipan diberi 8 roti lapis dengan berbagai isi dan diminta untuk mengidentifikasi isinya. Sejumlah roti lapis sengaja tidak diberi label.

Para sukarelawan mampu mengidentifikasi 35% isi roti lapis dengan tepat.

Selain itu, 93% tidak mampu membedakan antara beef dengan daging babi China, 92% tidak dapat membedakan antara ham dengan tuna, 82% bingung apakah itu Quorn (merk makanan siap saji) atau ayam, dan 78% keliru mengenali daging babi sebagai daging ayam dan seterusnya.

Survei dan pengujian itu disponsori oleh produsen sup dan saus, Glorious.

Dr. Lewis menghimbau agar masyarakat makan ‘dengan santai’ tanpa terburu-buru dan menghindari makan sambil nonton TV agar fokus terhadap makanan tidak terpecah.

“Makan terburu-buru membuat makanan masuk perut dengan cepat dan ketika perut mengirim sinyal ke otak bahwa perut sudah kenyang, sebenarnya adalah kekenyangan karena makan berlebihan”, katanya.

“Konsekuensinya, kita menambahkan kalori yang tak perlu dan ini menyebabkan penambahan berat badan.”

Glorious mempublikasikan sebuah program interaktif bernama ‘flavour map’ untuk menelusuri cita rasa terkemuka dari berbagai penjuru dunia.

Sumber : Daily Mail

Related Posts
Previous
« Prev Post

Comments