Showing posts with label Lingkungan. Show all posts
Showing posts with label Lingkungan. Show all posts

Es Krim Berbahan Mangrove

Es Krim Berbahan Mangrove
Adalah 5 mahasiswa jurusan Budi Daya Perairan Universitas Airlangga (Unair) Surabaya yang mengolah mangrove menjadi es krim alternatif.

Mereka adalah Galuh Ajeng Kusumaningrum, Ade Wahyu Pratama, Binti Rumiyati, Roro Febrina Anggraini, dan One Yuanda Putra. Kreasi penyegar dahaga tersebut mereka namai Remove.

Es krim Remove tersebut berbahan dasar tepung buah mangrove jenis bogem (Sonneratia sp) yang punya kandungan vitamin C tinggi. Mangrove tersebut diperoleh dari hutan bakau/ mangrove yang ada di timur Surabaya.

Sebagaimana diketahui, Hutan bakau atau disebut juga hutan mangrove adalah hutan yang tumbuh di atas rawa-rawa berair payau yang terletak pada garis pantai dan dipengaruhi oleh pasang-surut air laut. Hutan ini tumbuh khususnya di tempat-tempat di mana terjadi pelumpuran dan akumulasi bahan organik. Baik di teluk-teluk yang terlindung dari gempuran ombak, maupun di sekitar muara sungai di mana air melambat dan mengendapkan lumpur yang dibawanya dari hulu.

Ekosistem hutan bakau bersifat khas, baik karena adanya pelumpuran yang mengakibatkan kurangnya aerasi tanah; salinitas tanahnya yang tinggi; serta mengalami daur penggenangan oleh pasang-surut air laut. Hanya sedikit jenis tumbuhan yang bertahan hidup di tempat semacam ini, dan jenis-jenis ini kebanyakan bersifat khas hutan bakau karena telah melewati proses adaptasi dan evolusi.

Sumber : Jawa Pos & Wikipedia Indonesia


Read More

Global Warming Sudah Terjadi Sejak 100 Tahun Lalu

Global Warming Sudah Terjadi Sejak 100 Tahun Lalu

Temperatur permukaan laut telah meningkat 0,59C sejak 1870-an.

Selama ini diyakini bahwa global warming dimulai tahun 1970-an, namun pembacaan data terbaru temperatur laut menunjukkan bahwa pemanasan bumi telah terjadi jauh sebelumnya.

Sebuah studi yang dilakukan oleh Scripps Institution of Oceanography di San Diego melacak pemanasan laut pada akhir abad 19, yang artinya, kata para peneliti, bahwa iklim bumi telah meningkat sejak saat itu.

Laporan tersebut adalah yang pertama yang membandingkan temperatur antara yang dilakukan dalam perjalanan historis HMS Challenger pada 1872-1876 dengan data modern yang diperoleh dengan menggunakan robot peneliti laut yang melaporkan temperatur melalui global Argo program.

Penelitian yang dipimpin oleh pakar kelautan Dean Roemmich menunjukkan peningkatan rata-rata 0,33C di permukaan laut hingga kedalaman 700 meter.

Peningkatan terbesar terjadi di permukaan laut, 0,59C, menurun jadi 0,12C pada kedalaman 900 meter.

Sebelumnya, para ilmuwan menyatakan bahwa hampir 90% kelebihan panas yang meningkatkan sistem iklim bumi sejak 1960-an diserap ke laut.

Studi baru, yang dipublikasikan pada 1 April menyempurnakan edisi online dari Nature Climate Change dan dibantu penulisannya oleh John Gould dari Inggris yang berbasis di National Oceanography Centre dan John Gilson dari Scripps Oceanography, menyatakan bahwa pemanasan laut terjadi lebih awal.

‘Makna dari penelitian tersebut bukan hanya berupa perbedaan temperatur yang menunjukkan pemanasan secara global, tapi juga berlipat gandanya perubahan temperatur sejak 1870 yang diteliti selama lebih dari 50 tahun,’ kata Roemmich, wakil ketua International Argo Steering Team.

‘Ini berarti, skala waktu dari pemanasan laut bukan hanya terjadi sejak 50 tahun terakhir, tapi 100 tahun terakhir.’

Meskipun data yang diperoleh Challenger hanya mencakup 300 sounding temperatur (ukuran dari permukaan laut ke kedalaman) di sekeliling bumi, informasinya dijadikan dasar untuk perubahan laut dunia, yang sekarang dijadikan sampel oleh Argo.

Hampir 3.500 profiling milik Argo mengambang di laut yang masing-masing mengumpulkan profil temperatur setiap 10 hari.

Roemmich yakin temuan baru ini, yang merupakan potongan dari teka-teki dalam memahami iklim bumi, akan membantu para ilmuwan mengerti catatan panjang meningkatnya permukaan laut, karena penyebaran air laut yang memanas adalah penyebab yang signifikan kenaikan permukaan laut.

Selain itu, skala waktu 100 tahun pemanasan laut menyiratkan bahwa sistem cuaca/ iklim bumi secara keseluruhan makin memanas selama sekurangnya 100 tahun terakhir.

HMS Challenger adalah bekas kapal perang yang dimodifikasi untuk keperluan penelitian. Kapal tersebut mengumpulkan contoh makhluk laut dan sedimen serta mengukur temperatur laut secara marathon sejauh 68.890 mil mengarungi lautan.

Kapal layar yang dibantu tenaga uap tersebut membawa crew 243 awak dan ilmuwan yang bekerja di laboratorium dalam kapal.

Sumber : dailymail.co.uk

Read More

Tomcat Saingi Popularitas Tom Cruise

Tomcat Saingi Popularitas Tom Cruise
Siapa yang tak kenal Tom Cruise? Belakangan aktor tampan pemeran Ethan Hunt dalam film Mission Impossible punya saingan berat. Setidaknya di Surabaya dan beberapa kota di Indonesia. Namanya Tomcat.

Banyak produk bernama Tomcat. Di antaranya tokoh kartun lawan main Jerry Tikus dalam serial kartun jenaka Tom & Jerry. Pesawat tempur F-14 buatan Grumman Aircraft pun berjuluk Tomcat. Tapi Tomcat yang ini adalah serangga kecil yang membuat heboh warga Surabaya dan sekitarnya. Bahkan kabar terakhir menyebutkan kalau semut semai ini sudah merambah sampai Jogja dan Tangerang.

Memang banyak serangga berkeliaran bebas di sekitar kita: lalat, nyamuk, semut, kupu-kupu, dan sebagainya. Tapi yang membuat Tomcat menjadi pusat perhatian karena mereka tak seharusnya merambah pemukiman, dan racun yang dihasilkan dari tubuhnya berdampak buruk bagi kulit manusia. Karena meresahkan itulah yang membuat Tomcat populer. (mp2)

Pakar Hama UGM, Dr. Suputa menyebutkan bahwa serangan tomcat di Surabaya dikarenakan terganggunya habitat di daerah hutan mangrove yang berada di dekat Apartemen East Coast, Surabaya. Tomcat juga biasanya hidup di daerah persawahan atau tempat-tempat lembab lainnya.

Menurut Suputa, serangan Tomcat ini terjadi karena kerusakan lingkungan yang disebabkan oleh manusia. Alih fungsi lahan menjadi salah satu penyebabnya, di mana areal persawahan diubah menjadi kawasan pemukiman penduduk. "Kerusakan pada habitat Tomcat mendorong serangga ini mencari lingkungan yang baru sebagai tempat tinggal hingga merambah ke pemukiman penduduk," paparnya di Yogyakarta, Rabu (21/3).

Suputa menuturkan bahwa serangga tersebut sebenarnya tidak berniat menyerang manusia. Karena tertarik pada cahaya atau lampu di rumah penduduk, hewan ini pun datang.

Racun dari serangga Tomcat ini berasal dari hasil simbiosis dengan bakteri endosimibion dari genus Pseudomonas yang ada di dalam darah. Serangga yang bersifat infektif membawa bakteri ini adalah serangga berjenis kelamin betina. "Serangga ini bila digangu akan mengeluarkan racun,” ungkapnya.

Ia menambahkan, merebaknya tomcat juga disebabkan karena minimnya keberadaan predator. Faktor musim pun juga berpengaruh. Pada musim penghujan dengan kondisi kelembaban tinggi, populasi wereng yang merupakan makanan dari Tomcat pun meningkat. "Ketersediaan makanan yang melimpah inilah memicu meledaknya populasi Tomcat," tambahnya.

Disarankan Suputra, bila menemukan Tomcat, hendaknya lebih berhati-hati dan tidak melakukan kontak langsung. Hewan ini akan berbahaya apabila tergencet dan darahnya bersinggungan dengan kulit manusia. Yang perlu dilakukan hanya menghalau dengan tiupan atau kertas. "Untuk pengendaliannya, bisa menggunakan jebakan lampu. Bila sudah ditangkap, sebaiknya dilepas ke alam untuk penyeimbang lingkungan," tambahnya. (Olivia Lewi Pramesti/nationalgeographic.co.id)

Meningkatnya kesadaran publik seputar ancaman yang disebabkan telah mendistorsikan beberapa fakta seputar dampak dari serangga yang dikenal dengan nama lokal, semut semai.

Berikut adalah fakta medis seputar dampak dari semut semai alias Tomcat, antara lain:

• Serangga semut semai tidak mematikan.

Serangga ini berhabitat alami di persawahan. Predator alaminya adalah wereng dan kepik. Jika habitatnya menghilang, maka serangga ini akan berkomunal di tempat yang terang dan hangat. Tomcat memang memiliki cairan beracun, namun tidak mematikan. Semut semai menyebarkan racunnya dengan cara menyemprotkan ke arah datangnya ancaman. Dampak yang ditimbulkan adalah gejala kemerahan dan muncul bintil-bintil 24-36jam pasca paparan. Sensasi yang dirasakan adalah panas dan gatal. Pertolongan pertama bisa dilakukan dengan membasuh dengan cairan sabun atau air bersih dengan aliran satu arah.

• Tidak menyebabkan herpes

Pada beberapa sebaran informasi di berbagai media disebutkan serangan serangga ini menyebabkan herpes. Ini salah besar. Memang adanya gejala yang ditimbulkan sangat mirip dengan herpes, namun iritasi kulit yang ada bisa ditangani tidak sama dengan penanganan herpes. Pengobatan paparan tomcat bukanlah dengan topikal ataupun oral acyclovir. Acyclovir hanya untuk penanganan virus herpes.

• Penanganan

Bawalah segera ke rumah sakit atau klinik terdekat. Penanganan pertama bisa dilakukan dengan basuhan air untuk mengurangi paparan. Pastikan arah basuhan langsung ke pembuangan, guna mencegah potensi sisa basuhan yang membawa kandungan zat aktif racun memaparkan ke wilayah kulit lainnya.

Adalah bijaksana jika kondisi penderita dapat langsung dibawa ke rumah sakit untuk mendapatkan penanganan yang terbaik dari pihak otoritas medis. (DA/klikdokter.com)

Read More

Abrasi Pantai Siyut Kian Parah

Abrasi Pantai Siyut Kian Parah
Jika sebelumnya pemerintah melalui dana APBN menangani Pantai lebih karena tingkat abrasinya semakin parah, hal yang sama juga patut dilakukan terhadap Pantai Siyut di Kabupaten Gianyar. Pantai yang terletak di sebelah timur Pantai Lebih itu tingkat abrasi atau pengikisan pantainya mulai memprihatinkan. Sebagian lahan pertanian milik warga sekitar mulai terimbas, serta aktivitas para nelayan berkurang akibat ketidaknyamanan karena abrasi itu.

Tidak hanya itu, abrasi yang diprediksi pihak Dinas Pekerjaan Umum Kabupaten Gianyar mampu mengikis badan pantai hingga sekitar 4 meteran dalam setiap tahunnya itu juga berimbas pada Sungai Tukad Arum. Tukad yang terletak dan menjadi pembatas 2 wilayah kabupaten dengan pantai berbeda, yakni Gianyar dengan Pantai Siyut dan Kabupaten Klungkung dengan Pantai Tegal Besar, pun menjadi dangkal. Bahkan arus muara sungai pada kedua pantai itu terputus, tertimbun pasir pantai pengaruh abrasi tersebut.

Parahnya lagi, pendangkalan Tukad Arum akibat abrasi itu malah dijadikan tempat penyeberangan oleh warga sekitar dan menjadi ancaman baru bagi keselamatannya. Seperti yang dialami dan dilakukan I Wayan Sukriya (45). Pria peternak asal Banjar Tegal Besar, Klungkung, ini pada awalnya memaksa hendak menyeberangi muara Tukad Arum yang dangkal padahal kondisi arus ombak saat itu, Rabu siang, 14 Maret 2012, lumayan deras. Beruntung ia masih mendengar peringatan Suda (50), pria yang belakangan diketahui sebagai tetangga dekatnya. Suda berulang-ulang memperingati supaya Sukriya tidak melakukan aksi yang tergolong nekad itu. “Jangan dulu melintas. Bahaya,” teriak Suda.
Sukriya (dalam lingkaran) ketika hendak menyeberangi muara di tengah derasnya ombak pantai
(Foto: mwn)

Kepada FAKTA, Sukriya yang akhirnya urung melintas, menuturkan, ia yang mengaku kesehariannya menyabit rumput di lahan warga sekitar Pantai Siyut untuk pakan ternak sapi peliharaannya, terkadang terpaksa harus menyeberangi arus sungai yang menjadi berbahaya tatkala arus ombak cukup deras. “Kalau tidak begitu, ternak saya bisa kelaparan, Pak,” ujar Sukriya.

Ancaman yang dialami Sukriya juga bisa dialami warga sekitar lainnya. Mengingat masih banyak lagi warga yang melakukan aktivitas di pantai yang disebut-sebut abrasinya sudah lama diajukan perbaikan namun belum juga direalisasikan oleh pemerintah itu. Baik warga yang hanya sekedar menikmati suasana pantai, pun dengan warga yang memang terbiasa melakukan aktivitas pemancingan dan aktivitas persembahyangan di pantai tersebut.

Kondisi itu setidaknya patut menjadi perhatian pemerintah, khususnya pihak yang membidangi, untuk segera melakukan perbaikan atas kondisi abrasi Pantai Siyut serta pantai yang disebut warga Tegal Besar itu tanpa harus menunggu jatuhnya korban. Ancaman keselamatan jiwa serta lahan pertanian warga sekitar, atau lebih jauh lagi ancaman terhadap kondisi laiknya Jalan By Pass Tohpati-Kusamba yang jika lama dibiarkan akan terimbas juga, harus segera ditangani. Apalagi tingkat abrasi yang terjadi sudah parah, seperti diakui pihak Dinas PU Kabupaten Gianyar, di mana hampir 4 meteran badan pantai terkikis abrasi.

Terkait Tukad Arum yang dijadikan pelintasan oleh warga sekitar pun patut mendapatkan perhatian dengan melakukan perubahan, bukan malah mempersalahkan pelakunya. Mengingat kondisi yang terjadi dan dialami tukad itulah sebagai pemicunya, menjadikan sebagian warga beralasan melintas untuk menyingkat waktu padahal mengancam keselamatan jiwanya. (Mwn)R.26

Sumber : Majalah Fakta

Read More

Waspadai Benda-benda Plastik yang Anda Gunakan

Waspadai Benda-benda Plastik yang Anda Gunakan
Plastik telah menjadi bagian tak terpisahkan dalam hidup kita sehari-hari. Plastik dibuat menjadi beragam produk dengan berbagai kegunaan. Alasan kenapa plastik digunakan adalah karena harganya relatif murah dan tidak mudah patah. Plastik juga biasa digunakan untuk mengemas makanan. Hal ini dapat mengganggu kesehatan jika kita tidak jeli mengamati bahan plastik yang kita gunakan. Namun, jika kita mau sedikit saja berhati-hati, kita dapat mengetahui apakah plastik tersebut berbahaya atau tidak.

Hal yang kita perlu perhatikan adalah kode yang terdapat pada bagian bawah kemasan plastik. Kode tersebut menunjukkan jenis dari bahan plastik dibuat. Kodenya berbentuk segitiga yang terdiri dari 3 panah atau tulisan tentang bahan plastik. Dengan memahami itu, kita bisa mengenali apakah jenis kemasan plastik makanan tersebut berbahaya atau tidak.

1: Terephalate Polyethylene (PET / PETE)

Biasanya kemasan minuman dari mineral dengan warna transparan. Kemasan ini bersifat disposable, karena kandungan kimiawinya dapat berpengaruh pada isi kemasan jika digunakan dalam waktu lama.

2: High Density Polyethylene (HDPE)

Biasanya digunakan untuk kemasan obat atau kandungan kosmetik.

3: polyvinyl chloride (PVC)

Ini adalah bahan yang paling berbahaya. Biasa digunakan untuk saluran air, bahan baku bangunan, kadang mainan. Para orang tua wajib mewaspadai mainan anak-anak yang mengandung PVC ini.

4: Low Density Polyethylene (LDPE)

Digunakan untuk membungkus sayuran dan daging beku.

5: Polypropylene (PP)

Dipakai untuk bahan kemasan makanan, minuman, margarin, botol shampoo atau botol bayi.

6: polystyrene (PS)

Polystyrene adalah bahan yang berbahaya bagi tubuh. Jika makanan berminyak dipanaskan dalam kemasan ini, styrene akan meresap ke dalam makanan. Untuk itu penggunaan bahan ini untuk kemasan makanan sangat tidak dianjurkan. Biasanya stryofoam dijadikan bentuk gelas, piring, sendok dan garpu (padahal stryrofoam sudah lama diketahui dapat menyebabkan kanker), serta kotak CD.

7: Kategori Lain-lain

Kategori ini adalah kategori bahan plastik selain nomor 1 s/d 6 di atas. Di kategori ini adalah termasuk Polycarbonate yang juga rentan bagi kesehatan. Namun ada juga bahan yang baik untuk lingkungan karena dapat diuraikan. Namanya tepung bioplastik yang terbuat dari jagung, kentang, atau tebu.

Bahan makanan aman jika menggunakan plastik berkode 2, 4 dan 5. Kode nomor 7 adalah untuk plastik yang tidak jelas bahannya, sehingga harus lebih diwaspadai. Demi kesehatan, kita harus betul-betul memperhatikan kode yang tertulis.

Semoga bermanfaat.

Sumber : halanmediacorp.com

Read More

Akankah Spider-Man Jadi Kenyataan?

Akankah Spider-Man Jadi Kenyataan?
Saat ini para ilmuwan tengah meneliti material asing mirip jaring laba-laba berwarna putih yang ditemukan pada limbah nuklir di Savannah River Site, Carolina Selatan, sebuah fasilitas pembersihan nuklir seluas 300 mil persegi milik Departemen Energi Amerika Serikat, bulan lalu. Sebagian di antara mereka khawatir material itu adalah ‘produk’ dari laba-laba mutan.

Material misterius yang sebelumnya tidak pernah ada di limbah nuklir itu ditemukan di antara ribuan bahan bakar bekas yang terendam di kedalaman kolam.

Para pakar dari Savannah River National Laboratory mengumpulkan sampel-sampel kecil untuk diteliti lebih lanjut.

Sebuah laporan yang dibuat oleh Dewan Keselamatan Fasilitas Pertahanan Nuklir menyimpulkan, bahwa mtaterial hidup mirip jaring laba-laba tersebut masih belum teridentifikasi, tapi diduga merupakan mahluk hidup dan perlu penelitian lebih jauh untuk memastikannya.

Keberadaan material aneh tersebut sempat memicu kekhawatiran akan “terciptanya” makhluk mutan ala Frankenstein. Atau seperti yang digambarkan dalam komik Spider-Man, di mana Peter Parker digigit oleh laba-laba yang terpapar radioaktif.

Para pakar mengatakan, bahwa setiap makhluk hidup yang ada di kolam berisi air (dimaksudkan untuk melindungi para pekerja), akan berpeluang terpapar bahan bakar nuklir.

Hal ini akan meningkatkan kemungkinan terjadinya perubahan genetik makhluk tersebut menjadi spesies baru yang tak lazim.

Faktanya, memang ada organisme yang memiliki resistensi (kekebalan) alami terhadap radiasi nuklir, yang disebut ‘radioresistant’. Deinococcus radiodurans adalah salah satu organisme radioresistant dan telah direkayasa genetik untuk dimanfaatkan dalam treatment limbah nuklir.

Will Callicott, juru bicara Savannah River National Laboratory mengatakan dalam e-mailnya, bahwa pihaknya butuh sampel yang lebih besar untuk dianalisa. Namun, “Apapun material itu, tak menunjukkan tanda-tanda merusak,” katanya.

Sejauh ini belum ada komentar dari Dewan Keselamatan Fasilitas Pertahanan Nuklir perihal hal tersebut.

Sumber : dailymail.co.uk

Read More

Comments