Showing posts with label Fenomena. Show all posts
Showing posts with label Fenomena. Show all posts

Otak Kita Jadi Bebal Jika Lupa Membawanya

Otak Kita Jadi Bebal Jika Lupa Membawanya
Sebuah penelitian dari University of Missouri akhirnya menggunakan metode ilmiah untuk membuktikan sebuah fenomena yang menjangkiti orang-orang modern yang sudah semakin tinggi tingkat ketergantungannya pada produk teknologi bernama iPhone.

Menurut mereka, orang akan jadi gelisah jika jauh dari ponselnya. Jika itu terjadi, orang akan mengalami detak jantung tak normal dan peningkatan tekanan darah. Selain itu, ada konsekuensi lain yang mungkin tidak kita sadari. Setelah meminta orang-orang yang dijadikan subyek percobaan untuk melengkapi teka-teki dan tes kognitif lainnya, para peneliti menemukan, bahwa orang yang terpisah dari ponselnya akan menghasilkan kinerja yang lebih buruk dibandingkan dengan mereka yang selalu lengket dengan ponselnya.

Jauh dari ponsel membuat kita bebal alias bego.

Penelitian menunjukkan, bahwa penurunan kemampuan kognitif kemungkinan disebabkan oleh terlalu bingungnya orang-orang tak berponsel, berupa detak jantung tak beraturan, telapak tangan berkeringat, dan meningkatnya tekanan darah, untuk fokus. Pastinya, mereka tak akan bisa mengakses Google dengan cepat dan mudah, bukan?

Sumber: nymag

Read More

Selfie

Selfie
Pesatnya perkembangan teknologi piranti komunikasi berkamera menimbulkan fenomena baru yang mendunia: Selfie. Ditambah dengan peralatan tambahan bernama tongsis (tongkat narsis), makin sempurnalah fenomena itu.

Percaya atau tidak, makhluk Tuhan paling selfie adalah wanita. Kenapa? Alasan yang paling logis adalah karena populasi wanita lebih banyak daripada pria. Alasan lain, karena wanita adalah penyuka keindahan, bahkan keindahan dirinya sendiri sekalipun.

Tak heran jika banyak foto selfie yang dilakukan wanita dengan berbusana minim. Mungkin saja foto itu dimaksudkan untuk mengagumi diri sendiri atau sebagai kenang-kenangan bagi pria yang dicintainya. Pacar misalnya. Atau suami. Atau mungkin juga selingkuhannya. Tapi mari kita buang jauh-jauh dugaan itu. Anggaplah mereka melakukan itu sebagai bentuk kekaguman pada ciptaan Tuhan yang begitu indah. Perkara foto itu untuk disimpan sendiri tapi kemudian secara tak sengaja tersebar di dunia maya, atau memang sengaja disebarkan, tak perlu dipusingkan. Yang jelas, mata laki-lakilah yang diuntungkan, hehehe ...





















Read More

Hisapan Ombak Aneh Pantai Parangtritis Jogja Dibuktikan Secara Ilmiah

Hisapan Ombak Aneh Pantai Parangtritis Jogja Dibuktikan Secara Ilmiah
Para praktisi ilmu kebumian menegaskan bahwa penyebab utama hilangnya sejumlah wisatawan di Pantai Parangtritis, Bantul, adalah akibat terseret rip current

Dengan kecepatan mencapai 80 kilometer per jam, arus balik itu tidak hanya kuat, tetapi juga mematikan.

Kepala Laboratorium Geospasial Parangtritis I Nyoman Sukmantalya mengatakan, sampai sekarang informasi mengenai rip current amat minim. Akibatnya, masyarakat masih sering mengaitkan peristiwa hilangnya korban di pantai selatan DI Yogyakarta dengan hal-hal yang berbau mistis. Padahal, ada penjelasan ilmiah di balik musibah tersebut.

Arus balik merupakan aliran air gelombang datang yang membentur pantai dan kembali lagi ke laut. Arus itu bisa menjadi amat kuat karena biasanya merupakan akumulasi dari pertemuan dua atau lebih gelombang datang. 

“Bisa dibayangkan kekuatan seret arus balik beberapa kali lebih kuat dari terpaan ombak datang. Wisatawan yang tidak waspada dapat dengan mudah hanyut,” demikian papar Nyoman, Selasa (3/2) di Yogyakarta.

Celakanya, arus balik terjadi begitu cepat, bahkan dalam hitungan detik.

Arus itu juga bukan hanya berlangsung di satu tempat, melainkan berganti-ganti lokasi sesuai dengan arah datangnya gelombang yang juga menyesuaikan dengan arah embusan angin dari laut menuju darat.

Nyoman melanjutkan, korban mudah terseret arus balik karena berada terlalu jauh dari bibir pantai. Ketika korban diterjang arus balik, posisinya akan mudah labil karena kakinya tidak memijak pantai dengan kuat. 

“Karena terseret tiba-tiba dan tidak bisa berpegangan pada apa pun, korban menjadi mudah panik, dan tenggelam karena kelelahan,” lanjutnya.

Staf Ahli Pusat Studi Bencana Universitas Gadjah Mada, Djati Mardianto, melanjutkan, apabila korban tetap tenang saat terseret arus, besar kemungkinan baginya untuk kembali ke permukaan. “Karena arus berputar di dasar laut sehingga materi di bawah bisa naik lagi,” ujar Djati.

Setelah mengapung, korban bisa berenang ke tepi laut, atau membiarkan diri terempas ke pantai oleh gelombang datang lain. Setidak-tidaknya, korban memiliki kesempatan untuk melambaikan tangan atau berteriak minta tolong.

Sumber:  Widya Wicaksana/Bantul News Update

Read More

Pria Anggap Wanita Berbusana Merah Cenderung 'Gampangan'

Pria Anggap Wanita Berbusana Merah Cenderung 'Gampangan'
Semula merah dianggap sebagai warna cinta, namun belakangan para peneliti menemukan alasan kenapa pria suka wanita berbusana merah. Sederhana saja alasannya, para pria menganggap wanita berbusana merah cenderung mau diajak tidur saat kencan pertama.

Para psikolog yang melakukan penelitian atas 120 mahasiswa pria berusia antara 18-21 tahun menemukan, kebanyakan dari mereka beranggapan bahwa wanita yang memilih busana berwarna merah mempunyai “keinginan yang kuat untuk seks’ dan cenderung mau langsung diajak ke tempat tidur, dibandingkan wanita yang mengenakan busana berwarna netral, seperti hijau, biru, atau putih.

Dan busana merah tersebut tak harus baju atas atau rok mini, demikian temuan para peneliti.

Para sukarelawan ditanyai, apakah mereka menilai wanita tersebut melulu dari hasrat seksual si wanita berdasarkan warna atau t-shirt biasa.

Temuan, yang dipublikasikan dalam Journal of Social Psychology terbaru, menegaskan kuatnya pengaruh warna yang membuat para pria mempersepsikan lawan jenis mereka.

Studi sebelumnya menunjukkan bahwa pria akan mengajukan pertanyaan mesra dan duduk lebih dekat ke si wanita jika wanita tersebut mengenakan busana merah.

Penelitian lain menyatakan, wanita berbaju merah yang ingin menumpang kendaraan lewat (hitch hiker) akan lebih diterima oleh pengemudi pria.

Untuk memastikan apakah warna merah berpengaruh terhadap persepsi pria atas wanita, para psikolog di University of South Brittany di Perancis mengumpulkan 120 mahasiswa pria dan membagi mereka ke dalam 4 kelompok.

Masing-masing sukarelawan diberi 30 detik untuk memandangi gambar seorang wanita berusia 20 tahun mengenakan baju yang berubah-ubah dari merah, biru, hijau, lalu putih.

Kemudian para mahasiswa harus melengkapi kueisoner yang meminta mereka untuk menilai wanita mana yang menarik menurut mereka, dari skala 1 sampai 9.

Mereka juga harus menilai wanita mana yang mereka anggap langsung mau diboyong ke ranjang saat kencan pertama.

Ternyata wanita yang dinilai paling menarik adalah saat ia mengenakan baju merah, diikuti kemudian dengan putih, biru, dan terakhir hijau.

Si wanita berbaju merah juga dianggap cenderung ‘murahan’ saat ia berbaju merah, diikuti dengan biru, hijau, dan terakhir putih.

Dalam laporan atas temuan mereka, para peneliti mengatakan bahwa hasilnya mendukung hipotesis mereka, di mana pria memandang warna merah sebagai ajakan untuk 'ho ha hi he'.

“Studi menunjukkan bahwa warna merah terkait dengan gairah dan keromantisan, sebagaimana kesuburan wanita”.

“Tapi evolusi biologis juga dapat menjelaskan pentingnya warna merah. Selama masa kesuburan, perineum dari baboon, monyet dan simpanse betina berubah menjadi merah, kemungkinan untuk menarik minat jantannya”.

“Untuk pertama kalinya, eksperimen kami menunjukkan bahwa busana mempunyai kemampuan untuk membuat pria mempersepsikan wanita yang mengenakan t-shirt merah lebih “mengundang’ dibandingkan dengan jika wanita mengenakan t-shirt biru, putih, atau hijau”.

Psikolog Dr. Glenn Wilson, profesor psikologi tamu pada Gresham College di London, mengatakan bahwa penelitiannya juga menunjukkan kalau pria berbaju merah lebih menarik bagi wanita, karena terlihat seperti orang kaya.

“Tapi wanita berbusana merah menarik bagi wanita karena kaitan nafsu. Dampak tersebut terjadi tanpa disadari dan mungkin diperoleh dari kenyataan, bahwa merah adalah warna siginifikan di alam, menandakan bahaya dan menimbullan rangsangan”.

Sumber : Daily Mail
Read More

Kecanduan Kekuasaan Indentik dengan Kecanduan Kokain

Kecanduan Kekuasaan Indentik dengan Kecanduan Kokain
Lebih dari seratus sejarawan Baron John Acton menyatakan “Kekuasaan cenderung membuat orang korup, dan kekuasaan mutlak membuat orang mutlak korupsi”. Kini, para ilmuwan membuktikan bahwa secara biologis pernyataan itu benar.

Mereka menemukan bahwa ‘merasa berkuasa’ mempunyai kesamaan pengaruh sebagaimana kokain pada otak dengan meningkatnya tingkat testosteron dan produk turunannya, androstanediol, baik pada pria maupun wanita.

Hal ini pada gilirannya akan mendongkrak tingkat dopamine, ‘system reward’ otak yang disebut dengan nucleus acumbens, yang bisa sangat adiktif.

Kokain bekerja dengan cara yang sama, di mana dapat menimbulkan berbagai berpengaruh dari meningkatnya kewaspadaan, rasa percaya diri, energi, merasa nyaman dan euforia, hingga kebingungan, paranoia dan gelisah.

Kekuasaan nyaris berdampak identik dengan kokain dan kekuasaan yang berlebihan dan menghasilkan sejumlah besar dopamine yang lebih berdampak negatif, seperti arogan dan pemarah.

Pernyataan Dr Ian Robertson tersebut bisa dikembangkan lebih lanjut dalam menjelaskan perilaku aneh dan impulsif dari pejabat, konglomerat dan selebriti.

Di Daily Telegraph Robertson menulis: “Kera baboon biasa dalam hirarki dominasi mempunyai tingkat dopamine yang lebih rendah di wilayah otak kunci, tapi begitu dipromosikan ke posisi yang lebih tinggi, dopaminenya pun akan turut meningkat”.

“Hal ini membuat mereka lebih agresif dan aktif hasrat seksualnya. Pada manusia, perubahan tersebut juga terjadi saat mereka diberi kekuasaan”.

“Sebaliknya, penurunan posisi dalam hirarki akan menurunkan tingkat dopamine, meningkatkan stress dan menghambat fungsi kognitif”.

Ia menambahkan, bahwa kekuasaan juga membuat orang lebih pandai, karena dopamine meningkatkan fungsi lobus otak depan.

Kepatuhan dan dominansi juga memberikan efek yang sama melalui jaringan syaraf reward otak sebagaimana kekuasaan dan kokain.

Sumber : Daily Mail
Read More

Tomcat Saingi Popularitas Tom Cruise

Tomcat Saingi Popularitas Tom Cruise
Siapa yang tak kenal Tom Cruise? Belakangan aktor tampan pemeran Ethan Hunt dalam film Mission Impossible punya saingan berat. Setidaknya di Surabaya dan beberapa kota di Indonesia. Namanya Tomcat.

Banyak produk bernama Tomcat. Di antaranya tokoh kartun lawan main Jerry Tikus dalam serial kartun jenaka Tom & Jerry. Pesawat tempur F-14 buatan Grumman Aircraft pun berjuluk Tomcat. Tapi Tomcat yang ini adalah serangga kecil yang membuat heboh warga Surabaya dan sekitarnya. Bahkan kabar terakhir menyebutkan kalau semut semai ini sudah merambah sampai Jogja dan Tangerang.

Memang banyak serangga berkeliaran bebas di sekitar kita: lalat, nyamuk, semut, kupu-kupu, dan sebagainya. Tapi yang membuat Tomcat menjadi pusat perhatian karena mereka tak seharusnya merambah pemukiman, dan racun yang dihasilkan dari tubuhnya berdampak buruk bagi kulit manusia. Karena meresahkan itulah yang membuat Tomcat populer. (mp2)

Pakar Hama UGM, Dr. Suputa menyebutkan bahwa serangan tomcat di Surabaya dikarenakan terganggunya habitat di daerah hutan mangrove yang berada di dekat Apartemen East Coast, Surabaya. Tomcat juga biasanya hidup di daerah persawahan atau tempat-tempat lembab lainnya.

Menurut Suputa, serangan Tomcat ini terjadi karena kerusakan lingkungan yang disebabkan oleh manusia. Alih fungsi lahan menjadi salah satu penyebabnya, di mana areal persawahan diubah menjadi kawasan pemukiman penduduk. "Kerusakan pada habitat Tomcat mendorong serangga ini mencari lingkungan yang baru sebagai tempat tinggal hingga merambah ke pemukiman penduduk," paparnya di Yogyakarta, Rabu (21/3).

Suputa menuturkan bahwa serangga tersebut sebenarnya tidak berniat menyerang manusia. Karena tertarik pada cahaya atau lampu di rumah penduduk, hewan ini pun datang.

Racun dari serangga Tomcat ini berasal dari hasil simbiosis dengan bakteri endosimibion dari genus Pseudomonas yang ada di dalam darah. Serangga yang bersifat infektif membawa bakteri ini adalah serangga berjenis kelamin betina. "Serangga ini bila digangu akan mengeluarkan racun,” ungkapnya.

Ia menambahkan, merebaknya tomcat juga disebabkan karena minimnya keberadaan predator. Faktor musim pun juga berpengaruh. Pada musim penghujan dengan kondisi kelembaban tinggi, populasi wereng yang merupakan makanan dari Tomcat pun meningkat. "Ketersediaan makanan yang melimpah inilah memicu meledaknya populasi Tomcat," tambahnya.

Disarankan Suputra, bila menemukan Tomcat, hendaknya lebih berhati-hati dan tidak melakukan kontak langsung. Hewan ini akan berbahaya apabila tergencet dan darahnya bersinggungan dengan kulit manusia. Yang perlu dilakukan hanya menghalau dengan tiupan atau kertas. "Untuk pengendaliannya, bisa menggunakan jebakan lampu. Bila sudah ditangkap, sebaiknya dilepas ke alam untuk penyeimbang lingkungan," tambahnya. (Olivia Lewi Pramesti/nationalgeographic.co.id)

Meningkatnya kesadaran publik seputar ancaman yang disebabkan telah mendistorsikan beberapa fakta seputar dampak dari serangga yang dikenal dengan nama lokal, semut semai.

Berikut adalah fakta medis seputar dampak dari semut semai alias Tomcat, antara lain:

• Serangga semut semai tidak mematikan.

Serangga ini berhabitat alami di persawahan. Predator alaminya adalah wereng dan kepik. Jika habitatnya menghilang, maka serangga ini akan berkomunal di tempat yang terang dan hangat. Tomcat memang memiliki cairan beracun, namun tidak mematikan. Semut semai menyebarkan racunnya dengan cara menyemprotkan ke arah datangnya ancaman. Dampak yang ditimbulkan adalah gejala kemerahan dan muncul bintil-bintil 24-36jam pasca paparan. Sensasi yang dirasakan adalah panas dan gatal. Pertolongan pertama bisa dilakukan dengan membasuh dengan cairan sabun atau air bersih dengan aliran satu arah.

• Tidak menyebabkan herpes

Pada beberapa sebaran informasi di berbagai media disebutkan serangan serangga ini menyebabkan herpes. Ini salah besar. Memang adanya gejala yang ditimbulkan sangat mirip dengan herpes, namun iritasi kulit yang ada bisa ditangani tidak sama dengan penanganan herpes. Pengobatan paparan tomcat bukanlah dengan topikal ataupun oral acyclovir. Acyclovir hanya untuk penanganan virus herpes.

• Penanganan

Bawalah segera ke rumah sakit atau klinik terdekat. Penanganan pertama bisa dilakukan dengan basuhan air untuk mengurangi paparan. Pastikan arah basuhan langsung ke pembuangan, guna mencegah potensi sisa basuhan yang membawa kandungan zat aktif racun memaparkan ke wilayah kulit lainnya.

Adalah bijaksana jika kondisi penderita dapat langsung dibawa ke rumah sakit untuk mendapatkan penanganan yang terbaik dari pihak otoritas medis. (DA/klikdokter.com)

Read More

Comments