Showing posts with label Psikologi. Show all posts
Showing posts with label Psikologi. Show all posts

Sekilas Tentang Kemajuan Pola Pikir Manusia

Sekilas Tentang Kemajuan Pola Pikir Manusia

Kita hidup di jaman yang memberikan penghuninya kesempatan terbaik untuk mendengarkan dirinya. Sekarang manusia bisa mendapatkan apa yang benar-benar dia inginkan. Mulai dari makanan apa yang dia sedang menarik seleranya, lengkap dengan bagaimana cara makanan tersebut dimasak. Pekerjaan apa yang dia inginkan. Sampai, bagaimana cara bagi dirinya untuk mendidik dirinya sendiri untuk mendapatkan pekerjaan tersebut. Manusia di jaman ini benar-benar mendapatkan kesempatan untuk mengatur hidup dan meraih impiannya. Manusia di jaman ini mendapatkan kesempatan sebesar-besarnya untuk menjadi bahagia karena dapat menjadi dirinya sendiri.

Kondisi yang membebaskan ini tidak serta merta dimiliki oleh manusia, tapi juga didukung oleh perkembangan teknologi serta -yang lebih penting- perkembangan cara berpikir manusia. Maka, tentu saja pembicaraan mengenai pentingnya mendengarkan diri sendiri harus dimulai dari pembahasan sejarah mengenai bagaimana usaha manusia hingga sampai pada titik di mana mereka menyadari pentingnya mendengarkan diri sendiri. Pembahasan mengenai hal ini penting agar, selain kita mengetahui pentingnya mendengarkan diri sendiri, kita juga menyadari bahwa kondisi yang membuat kita bebas mendengarkan diri sendiri tidak datang begitu saja, tapi telah melalui perjuangan dan pemikiran yang panjang.

Kira-kira, masa di dunia berdasarkan kebebasan manusia untuk mendengarkan diri sendiri dapat dibagi kedalam tiga kategori jaman, yaitu, (1) jaman di mana manusia harus mencocokkan diri dengan dunia sekitarnya, (2) jaman di mana manusia mulai menyadari pentingnya menjadi diri sendiri dan mendengarkan diri sendiri, dan (3) jaman di mana manusia mulai menjadi diri sendiri. Ketiga kategori ini adalah hasil observasi pribadi penulis, dan mungkin saja di kemudian hari akan terbukti salah.

JAMAN PERTAMA

Jaman pertama dimulai sejak pertama kali manusia memiliki pekerjaan sampai pada pertengahan abad ke-20 (yang saya maksud abad ke-20 adalah sejak 1900 dan berakhir di tahun 1999). Tentu saya tidak akan membahasnya semenjak masa hanya ada dua pekerjaan di dunia: berburu dan membesarkan anak. Saya hanya akan membahas akhir jaman pertama ini. Dengan memperlakukan peneliti psikologi sebagai seorang sejarawan, menurut saya peneliti yang paling mewakili jaman ini adalah Lev S. Vygotsky (1896-1934).

Vygotsky menemukan bahwa budaya amat mempengaruhi kesuksesan belajar anak. Anak yang sukses adalah anak yang dapat mengikuti keinginan budayanya. Maksudnya, anak yang sukses adalah anak yang dapat bekerja atau menciptakan sesuatu yang dapat diterima oleh budayanya. Anak harus mengikuti tuntutan budayanya. Misal, anak yang hidup di pantai akan sukses jika dia dapat menjadi seorang nelayan atau menciptakan sesuatu yang dapat membantu pekerjaan sebagai nelayan.

Pada jaman Vygotsky ini, seseorang akan lebih sukses jika mengikuti tuntutan masyarakatnya daripada menjadi diri sendiri. Orang itu beruntung jika tuntutan masyarakat sesuai dengan keinginannya. Jika tidak, pilihannya adalah menyerah pada tuntutan lingkungan, atau memberontak dan harus berani hidup dalam kategori “tidak sukses”. Jaman ini ditandai dengan adanya kategori pekerjaan yang “sukses” (misal, pengacara, dokter atau insinyur) dan “tidak sukses” (misal, seniman).

JAMAN KEDUA

Tapi kemudian jaman bergerak dan memasuki era baru. Era dimana manusia mulai menyadari pentingnya menjadi diri sendiri. Jaman ini diwakili oleh Carl Rogers (1902-1987) dan berkembang di akhir abad ke-20 (1950-an ke atas). Pada jaman ini, Rogers –melalui pengalaman praktek bertahun-tahun— menemukan bahwa orang yang memiliki gangguan kesehatan psikologi adalah orang yang menemukan ketidakcocokan antara dirinya (organismic experience) dan gambaran dirinya yang dia dapat dari harapan orang lain (bagian dari self-concept).

Gangguan kesehatan psikologis ini hadir karena tuntutan yang diberikan kepada dia (conditions of worth) membentuk gambaran diri (self-concept) yang berbeda dari siapa dirinya sebenarnya. Dan saat dirinya harus menjalani hidup yang berbeda dari keinginannya, dia tidak merasa bahagia. Tapi, mau tidak mau dia harus menuruti tuntutan lingkungannya (misal, perintah orang tua bahwa untuk jadi sukses, dia harus menjadi dokter dan meninggalkan keinginannya menjadi pelukis) karena dengan menuruti harapan lingkungan, baru dia merasa dihargai oleh lingkungannya.

Jaman ini ditandai dengan manusia yang mulai menerima dirinya sendiri, walau masih dalam bentuk hobi (misal, orang yang merasa memiliki darah seni akan meluangkan waktu dengan melukis atau karaoke). Orang yang bahagia di jaman ini adalah orang yang dapat mendengarkan dirinya sendiri.

JAMAN KETIGA

Jaman ketiga ini berkembang pada awal abad ke-21. Mungkin mereka yang dapat mewakili jaman ini adalah Martin Selligman (peneliti yang membahas mengenai kebahagian diri) dan Howard Gardner (peneliti Multiple Intelligence).

Selligman memaparkan bahwa kebahagiaan akan dimiliki jika manusia menerima dirinya apa adanya. Konsep ini melahirkan pendekatan Psikologi Positif, yaitu melakukan perubahan pada manusia dengan cara berfokus pada peningkatan kekuatan orang tersebut, daripada memperbaiki kekurangan-kekurangannya. Hal ini dilakukan karena ditemukannya kenyataan bahwa memperbaiki kekurangan hanya akan memberikan hasil seadanya, sedangkan meningkatkan kekuatan (bakat) seseorang akan melejitkan potensi orang tersebut, padahal kedua usaha tersebut dilakukan dengan tenaga yang sama (saat ini, sudah mulai ada perusahaan di Indonesia yang menerapkan pendekatan ini pada karyawannya).

Pendekatan Psikologi Positif ditopang oleh penemuan Gardner bahwa selain kecerdasan intelektual (kecerdasan yang dikategorikan intelektual adalah logis-matematis), masih ada kecerdasan lain (linguistik, spasial, interpersonal, dll). Dan jika seseorang merasa kuat di kecerdasan yang bukan intelektual, maka –mengikuti prinsip Psikologi Positif— lebih baik orang tersebut berkonsentrasi pada bakatnya daripada memperbaiki sesuatu yang sebenarnya tak akan memberikan hasil yang memuaskan.

Jaman ini ditandai dengan makin dihargainya profesi yang tadinya dianggap sebagai profesi yang “tidak sukses” yang disebutkan di atas, serta mulai adanya orang-orang yang berpindah profesi untuk mendapatkan pekerjaan yang mereka dambakan (Carl Rogers sendiri adalah orang yang melepaskan harapan orang tuanya agar dia menjadi seorang petani demi impiannya untuk menjadi praktisi dan peneliti psikologi).

Sebagai penutup, jaman ini adalah jaman dimana menjadi diri sendiri sudah tidak dianggap sebuah pemberontakan, tapi dianggap sebagai sebuah kekuatan. Untuk menyadarinya, manusia memerlukan waktu bertahun-tahun (lihat saja pergeseran dari “jaman satu” ke “jaman dua” yang memakan waktu lima puluh tahun). Oleh karena itu, kita harus merayakan kemajuan cara berpikir manusia –yang merupakan pertanda terus berlanjutnya evolusi pemikiran— dengan menanyakan pada diri kita “mau jadi apa kita?” dan membiarkan anak kita berkembang sesuai dengan potensinya.

Sumber: Bina Insan Mandiri melalui Promitmen
Read More

Manakah yang Bikin Cepat Tua: Marah atau Bohong?

Manakah yang Bikin Cepat Tua: Marah atau Bohong?
Mungkin banyak yang bertanya, bagaimana seseorang berbohong akan menjadi cepat tua. Pertanyaan ini bisa kita jawab dengan logika ilmiah.

Berbohong adalah sebuah aktivitas psikologis yang bersifat menekan atau merepres atau menyembunyikan sesuatu. Berbohong adalah sebuah perilaku maldaptif yang menimbulkan rasa ketidakpuasaan secara psikologis. Pada dasarnya, dalam kondisi normal, tidak ada orang mau yang mau melakukan sebuah kebohongan. Kebohongan terjadi karena merasa ada ancaman dari luar, jika dia mengatakan apa yang sesungguhnya.

Perilaku maldaptif dan perasaan ketidaknyamanan secara psikologis karena berbohong, akan mempengaruhi seluruh sistem dalam tubuh kita. Dia akan mempengaruhi kondisi fisik secara langsung. Kita tahu bahwa, segala aktivitas psikologis kita (emosi, cemas, cinta, tertekan dan lain lain) diatur oleh sistem syaraf berupa neurotransmitter dengan kadar tertentu, sehingga perasaan-perasaan diatas bisa kita rasakan. Misalnya, kadar neurotransmitter dopamine yang tinggi akan menambah rasa cinta dan rasa aman.

Bagaimana dengan orang yang berbohong? Dengan adanya tekanan psikologis karena merasa bersalah atau merasa was-was akan terjadi sesuatu, tubuh kita akan mendefenisikannya, dalam hal ini sistem neurotransmitter. Sistem syaraf akan melepaskan neurotransmitter yang sesuai dengan perasaan tadi.

Sistem syarat yang bekerja pada saat berbohong sama dengan sistem syaraf kita pada saat marah. Tetapi, kondisi sistem syarat kita pada saat marah akan lebih stabil dengan mengeluarkan secara teratur neurotransmitter yang mengatur perasaan marah (marah yang ekspresif).

Berbeda dengan orang yang suka berbohong, neurotransmitter yang dilepaskan kemungkinan akan saling bertolak belakang, dan aktivitasnya tidak teratur. Sehingga bisa di rasakan, mengapa orang yang berbohong, kadang merasa aman, kadang merasa terancam. Ini karena ketidak teraturan pengeluaran neurotransmitter.

Kalau ada orang yang mengatakan bahwa marah akan menyebabkan cepat tua, mungkin berbohong akan lebih cepat lagi. Jika orang sedang marah, ekspresi tuanya kita bisa lihat dalam tampilan yang sesungguhnya, tetapi orang yang berbohong, tidak bisa diprediksi bagaimana tampilan wajah yang sesungguhnya, yang jelas dia tergorogoti tekanan psikologis dari dalam dan dia akan muncul lebih para dari ekspresi marah.

Melakukan kebohongan sangat berbanding terbalik dengan kejujuran. Bohong adalah sifat tidak mau menerima, melawan, atau menyembunyikan. Dia identik dengan murung, judes, diam, dan lain-lain. Sedangkan kejujuran lebih pada sikap yang adaptif, menerima apa adanya, merasa enjoy menjalani hidup, dan dia identik dengan senyuman, keramahan, dan persahabatan.

Sumber : psychologymania.com

Read More

10 Cara Alami Hentikan Tekanan Bathin

10 Cara Alami Hentikan Tekanan Bathin
  • Hidup ini berat.
  • Apa inti dari segala sesuatu?
  • Aku tak pernah merasa bahagia.

Apakah point di atas pernah terbersit dalam pikiran Anda? Tampaknya begitu. Kadang perasaan sedih bisa dianggap normal, tapi bukan berarti mudah mengatasinya. Jika dibiarkan berlarut-larut, pikiran negatif akan makin memburuk dan menimbulkan tekanan batin/ depresi serius. Itulah sebabnya perlu segera diantisipasi sejak dini agar hidup Anda tidak terpuruk.

Mungkin saran berikut ini tidak bisa mengurangi masalah Anda, tapi setidaknya bisa membantu mencegah munculnya pola pikir negatif yang pada akhirnya akan menghentikan tekanan batin Anda. Jika Anda merasa punya masalah kesehatan mental yang serius, jangan ragu untuk menemui dokter spesialis yang kompeten.

1. Memahami siklus emosional.
Hidup ini tak lepas dari fluktuasi emosional - kadang naik, kadang turun. Ada kalanya Anda merasa sangat bersemangat, namun suatu saat seperti mobil kehabisan bensin. Namun seringkali Anda berada di antara keduanya. Memahami pola emosi positif dan negatif akan membantu menempatkan perasaan Anda secara tepat. Saat Anda merasa galau, ingatlah bahwa itu adalah emosi alami yang pasti akan berlalu. Mengetahui bahwa tekanan batin bersifat temporer akan mengurangi kegalauan yang berlebihan.

2. Berteman dengan orang-orang baik
Cara berpikir dan perasaan Anda tak lepas dari interaksi Anda dengan orang lain. Pikiran (baik positif maupun negatif) bersifat menular. Jika Anda dikelilingi oleh orang berperangai buruk, wajar jika Anda mulai berpikir dan merasakan perilaku yang sama. Untuk memperbaiki sikap buruk Anda, bergaullah dengan orang-orang baik. Cari mereka dan coba pahami cara mereka menjalani kehidupan.

3. Bercermin pada keberhasilan masa lalu
Saat mengalami kegagalan, keberhasilan yang pernah diraih akan mudah terlupakan. Luangkan waktu untuk mengingat prestasi Anda di masa lalu dan bangkitkan kembali diri Anda. Apa yang membuat Anda sukses waktu itu? Apa keunggulan Anda? Jika dilakukan secara rutin, latihan ini akan membangun rasa percaya diri, membantu Anda menemukan kesalahan yang menjadikan Anda gagal, dan memunculkan ide-ide yang akan membuat Anda berhasil di masa depan.

4. Selalu bersyukur
Adalah manusiawi membandingkan diri sendiri dengan orang lain yang lebih berhasil. Penelitian menunjukkan, bahwa orang ingin lebih kaya daripada teman-teman mereka, tapi tidak melakukan upaya yang lebih. Saat Anda merasa hidup Anda lebih baik dibandingkan dengan orang lain yang kurang beruntung, bersyukurlah dan ini akan membuat tekanan batin Anda berkurang.

5. Merubah suasana
Satu cara terbaik merubah perasaan Anda adalah berganti suasana. Saat Anda terpuruk, Anda akan menghubungkan masalah Anda dengan segala sesuatu di sekitar Anda. Hal ini bisa menjadi siklus yang berbahaya. Solusinya adalah merubah sesuatu. Perubahan tak perlu dilakukan secara radikal. Bersih-bersih rumah, menambahkan pencahayaan dalam ruangan, atau menambahkan dekorasi yang menyenangkan akan merubah mood sebuah ruangan.

6. Tinggalkan rutinitas
Melakukan hal yang sama secara rutin setiap hari bisa membuat bosan dan tertekan. Hal ini seringkali menjebak kita pada kebiasaan. Untuk keluar dari situ Anda perlu melakukan perubahan. Jika bisa, ambillah cuti. Lakukan sesuatu yang tidak pernah Anda lakukan atau coba. Dalam jangka panjang, cuti untuk keluar dari rutinitas akan membuat Anda lebih bahagia dan produktif.

7. Beriteraksi dengan hewan dan alam
Betapa menggelikannya melihat orang menganggap masalah kecil mereka begitu pentingnya. Hewan tidak demikian. Burung kecil tidak galau hanya karena ia bukan elang atau karena burung lain dapat biji-bijian lezat. Hewan hidup untuk saat ini dan menunjukkan cinta tanpa syarat. Mengamati dan berinteraksi dengan mereka aka membantu Anda melewati masa-masa sulit yang membuat galau.

8. Bergerak
Saran Johnny Cash yang terkenal, “Get a rhythm, when you get the blues.” Bergerak mengikuti irama membuat orang merasa nyaman. Hal ini berlaku secara umum. Mendatangi gym atau sekedar jalan-jalan akan membantu meredakan kelesuan yang muncul dari rasa tertekan. Jika Anda makin bersemangat melakukannya, perasaan Anda akan jauh lebih baik.

9. Berpikir seluas-luasnya
Kita hanyalah sebutir debu di alam semesta yang maha luas ini. Dengan kata lain, apa yang kita lakukan mungkin akan terlupakan. Ada yang merasa hal ini membuat tertekan, padahal seharusnya tak perlu. Artinya, semua masalah yang kita hadapi hanyalah ilusi. Dalam satu juta tahun yang akan datang tak akan ada seorangpun yang ingat apa yang Anda lakukan atau tidak lakukan. Yang penting adalah momen saat ini dan menikmati setiap detiknya dengan penuh rasa syukur.

10. Berbuat sesuatu untuk membantu diri Anda sendiri
Dari semua itu, cara terbaik untuk mengatasi depresi adalah melakukan sesuatu. Apa masalah terbesar Anda? Bagaimana cara mengatasinya? Begitu Anda memutuskan untuk berhenti galau dan mulai bergerak, Anda tidak akan punya waktu lagi untuk merasa depresi. Bertindak akan membuka pikiran Anda dan membimbing Anda untuk maju. Sekali Anda memperoleh hasil, Anda akan kembali bersemangat dan dengan berpikir positif akan menjadikannya lebih mudah.

Sumber : Pickthebrain.com | Foto : Shutterstock

Read More

5 Tahun dari Hidup Kita Habis Untuk Galau

5 Tahun dari Hidup Kita Habis Untuk Galau
Jika ada sesuatu yang membuat Anda cemas atau khawatir, jangan terlalu dirisaukan, karena Anda bukan satu-satunya orang di dunia ini yang mengalaminya.

Menurut sebuah survei, warga Inggris yang mengalami stres menghabiskan waktu yang setara dengan 5 tahun dari hidup mereka untuk mencemaskan sesuatu.

Orang dewasa rata-rata kehilangan waktu 2 jam per hari merisaukan hal-hal seperti masalah keuangan pribadi, kesehatan, menua, jaminan kerja dan hubungannya dengan orang lain.

Penelitian tersebut juga menemukan kecemasan yang ekstrim yang membuat banyak di antara kita yang kehilangan konsentrasi kerja, menyebabkan susah tidur dan bahkan mengalami keretakan hubungan dengan pasangan.

Riset, yang didanai oleh sebuah lembaga kesehatan dan kesejahteraan terkemuka Benenden Health, menemukan bahwa rata-rata orang menghabiskan waktu 14 jam untuk galau.

Sekitar 45% di antaranya mengaku bahwa stres dan galau berdampak langsung pada kesehatan mereka.

Paul Keenan dari Benenden Health mengatakan, “Fakta yang memprihatinkan melihat bahwa stres mendominasi hidup kita dan berdampak buruk pada kinerja, kualitas tidur dan hubungan dengan orang lain”.

“32% orang harus pergi ke dokter karena kecemasan atau stress”.

Keprihatinan pada menurunnya stamina, ketakutan pada proses penuaan atau masalah pekerjaan adalah penyebab yang paling umum menimbulkan kekhawatiran.

Sementara itu ada pula yang menyimpan beban pikiran apakah pasangan mereka sudah tepat untuk mereka atau masih mencintai mereka.

Rata-rata orang dewasa mengalami 6 malam setiap bulan terganggu atau menurun kualitas tidurnya gara-gara galau.

Dan satu dari empat orang merasa sangat khawatir berperilaku yang tidak tepat atau sengaja menghindarinya.

Seperlima orang punya teman atau kerabat yang mereka rasakan lari dari masalah, sementara sepertiga orang merasa pasangan mereka menyimpan rahasia – dan kebanyakan menyangkut masalah keuangan.

Yang mengkhawatirkan, satu dari empat orang merasa tidak punya teman untuk curhat perihal masalah mereka.

Dan tiga dari sepuluh orang memendam banyak hal agar bisa menjalani hidup sehari-hari.

Lebih dari satu di antara sepuluh orang punya laporan keuangan dari bank, tagihan atau surat yang telah mereka buka dan menyingkirkannya jauh-jauh karena mereka terlalu takut membacanya.

Paul Keenan menambahkan, “Kurang menggembirakan jika melihat hanya 32% orang yang menyampaikan masalahnya pada dokter dan mencari bantuan profesional”.

Mereka butuh diyakinkan bahwa stres tidak akan mengganggu kehidupan mereka tanpa upaya untuk memperbaiki diri.

Mereka bisa melakukannya dengan menyadari bahwa masalah itu ada dan tidak menunggu berlarut-larut hingga berdampak pada kesehatan mereka.

Rata-rata orang mengalami 125 hari dalam kurun satu tahun dengan pikiran yang dihantui kekhawatiran.

Berikut ini 10 masalah yang paling membuat orang galau :
  1. Kegemukan
  2. Menjadi tua
  3. Tidak punya tabungan untuk masa depan
  4. Kesehatan
  5. Hutang
  6. Menurunnya stamina
  7. Tagihan kartu kredit
  8. Bayar sewa rumah
  9. Jaminan kerja
  10. Diet

Sumber : Daily Mail | Foto : psychiatry.emory.edu

Read More

Prinsip 90/10

Prinsip 90/10
Bagaimana prinsip 90/10 itu?
- 10% dari hidup Anda terjadi karena apa yang langsung Anda alami.
- 90% dari hidup Anda ditentukan dari cara Anda bereaksi.

Apa Maksudnya?

Anda tidak dapat mengendalikan 10% dari kondisi yang terjadi pada diri Anda.

Contohnya:
Anda tidak dapat menghindar dari kemacetan. Pesawat terlambat datang dan hal ini akan membuang seluruh schedule Anda. Kemacetan telah menghambat seluruh rencana Anda. Anda tidak dapat mengontrol kondisi 10% ini. Tetapi beda dengan 90% lainnya. Anda dapat mengontrol yang 90% ini.

Bagaimana caranya?
Dari cara reaksi Anda !!!. Anda tidak dapat mengontrol lampu merah, tetapi Anda dapat mengontrol reaksi Anda.

Marilah kita lihat contoh di bawah ini:

Kondisi:
Anda makan pagi dengan keluarga Anda. Anak Anda secara tidak sengaja menyenggol cangkir kopi minuman Anda sehingga pakaian kerja Anda tersiram kotor. Anda tidak dapat mengendalikan apa yang baru saja terjadi???

Reaksi Anda (1):
Anda bentak anak Anda karena telah menjatuhkan kopi ke pakaian Anda. Anak Anda akhirnya menangis. Setelah membentak, Anda menoleh ke istri Anda dan mengkritik karena telah menaruh cangkir pada posisi terlalu pinggir di ujung meja.

Akhirnya terjadi pertengkaran mulut. Anda lari ke kamar dan cepat-cepat ganti baju. Kembali ke ruang makan, anak Anda masih menangis sambil menghabiskan makan paginya. Akhirnya anak Anda ketinggalan bis. Istri Anda harus secepatnya pergi kerja. Anda buru-buru ke mobil dan mengantar anak Anda ke sekolah. Karena Anda telat, Anda laju mobil dengan kecepatan 70 km/jam padahal batas kecepatan hanya boleh 60 km/jam.

Setelah terlambat 15 menit dan terpaksa mengeluarkan kocek Rp 600.000,- karena melanggar lalu lintas, akhirnya Anda sampai di sekolah. Anak Anda secepatnya keluar dari mobil tanpa pamit. Setelah tiba di kantor di mana Anda telat 20 menit, Anda baru ingat kalau tas Anda tertinggal di rumah.

Hari kerja Anda dimulai dengan situasi buruk. Jika diteruskan maka akan semakin buruk. Pikiran Anda terganggu karena kondisi di rumah. Pada saat tiba di rumah, Anda menjumpai beberapa gangguan hubungan dengan istri dan anak Anda.

Mengapa? Karena cara Anda bereaksi pada pagi hari.

Mengapa Anda mengalami hari yang buruk?*
1. Apakah penyebabnya karena kejatuhan kopi?
2. Apakah penyebabnya karena anak Anda?
3. Apakah penyebabnya karena polisi lalu lintas?
4. Apakah Anda penyebabnya?

Jawabannya adalah No. 4 yaitu penyebabnya adalah ANDA SENDIRI !!!
Anda tidak dapat mengendalikan diri setelah apa yang terjadi pada cangkir kopi. Cara Anda bereaksi dalam 5 detik tersebut ternyata adalah penyebab hari buruk Anda.

Berikut adalah contoh yang sebaiknya atau seharusnya Anda sikapi.

Reaksi Anda (2):
Cairan kopi menyiram baju Anda. Begitu anak Anda akan menangis, Anda berkata lembut : "Tidak apa-apa sayang, lain kali hati-hati ya." Anda ambil handuk kecil dan lari ke kamar. Setelah mengganti pakaian dan mengambil tas, secepatnya Anda menuju jendela ruang depan dan melihat anak Anda sedang naik bis sambil melambaikan tangan ke Anda. Anda kemudian mengecup lembut pipi istri Anda dan mengatakan: "Sampai jumpa makan malam nanti."

Anda datang ke kantor 5 menit lebih cepat dan dengan muka cerah menegur staf Anda. Bos Anda mengomentari semangat dan kecerahan hari Anda di kantor.

Apakah Anda melihat perbedaan kedua kondisi tersebut?
2 (dua) skenario berbeda, dimulai dengan kondisi yang sama, diakhiri dengan kondisi berbeda.

Mengapa?
Ternyata penyebabnya adalah dari cara Anda bereaksi !. Anda tidak dapat mengendalikan 10% dari yang sudah terjadi. Tetapi yang 90% tergantung dari reaksi Anda sendiri.

Ini adalah cara untuk menerapkan prinsip 90/10. Jika ada orang yang mengatakan hal buruk tentang Anda, jangan cepat terpancing. Biarkan serangan tersebut mengalir seperti air di gelas. Anda jangan membiarkan komentar buruk tersebut mempengaruhi Anda.

Jika beraksi seadanya atau salah reaksi maka akan menyebabkan Anda: kehilangan teman, dipecat, stress dan lain-lain yang merugikan.

Bagaimana reaksi Anda jika mobil Anda mengalami kemacetan dan terlambat masuk kantor? Apakah Anda akan marah? Memukul stir mobil? Memaki-maki? Apakah tekanan darah Anda akan naik cepat?

Siapa yang peduli jika Anda datang telat 10 detik? Kenapa Anda biarkan kondisi tersebut merusak hari Anda? Cobalah ingat prinsip 90/10 dan jangan khawatir, masalah Anda akan cepat terselesaikan.

Contoh lain:

- Anda dipecat.
Mengapa Anda sampai tidak bisa tidur dan khawatir? Suatu waktu akan ada jalan keluar. Gunakan energi dan waktu yang hilang karena kekhawatiran tersebut untuk mencari pekerjaan yang lain.

- Pesawat terlambat.
Kondisi ini merusak seluruh schedule Anda. Kenapa Anda marah-marah kepada petugas tiket di bandara? Mereka tidak dapat mengendalikan terhadap apa yang terjadi. Kenapa harus stress? Kondisi ini justru akan memperburuk kondisi Anda. Gunakan waktu Anda untuk mempelajari situasi, membaca buku yang Anda bawa, atau mengenali penumpang lain.

Sekarang Anda sudah tahu prinsip 90/10. Gunakanlah dalam aktivitas harian Anda dan Anda akan kagum atas hasilnya. Tidak ada yang hilang dan hasilnya sangat menakjubkan. Sudah berjuta-juta orang menderita akibat stress, masalah berat, cobaan hidup dan sakit hati yang sebenarnya hal ini dapat diatasi jika kita mengerti cara menggunakan prinsip 90/10. (Stephen Covey)

Stephen Covey
Tidak ada manusia yang sempurna di dunia ini. 
Sikapilah segala sesuatu dengan hati yang lemah lembut, selalu positive – thinking, beraksilah secara positif, bukalah hati kita untuk saling mengampuni, dan berikanlah senyummu setiap hari niscaya hidup itu akan terasa indah.

Read More

Comments